Selipan Chant Indonesia dalam Peninggalan Berharga BiS: Nerve




Sebelumnya kami pernah mengangkat sebuah materi yang serupa ketika membahas lagu berjudul Secret Base. Kali ini, kami membahas lagi sebuah lagu yang mungkin memang begitu menarik hingga dibawakan dalam berbagai aransemen. Bedanya, lagu ini awalnya dibawakan dan kemudian biasanya dibawakan ulang oleh idol group. Tapi sebelum itu, ada cerita dibalik tulisan ini.

Sejujurnya, saya sedikit terkejut saat menyambangi Ennichisai 2016 beberapa waktu lalu, karena saya menyaksikan sebuah peristiwa yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Di sela-sela lagu pertama yang dibawakan oleh trio Nono, Ran, dan Momoko yang tergabung di Love Android, selipan fanchant berbahasa Indonesia muncul.

Saya tidak dengar persis apa yang mereka (penonton yang berjingkrakkan) ucapkan, tapi frasa yang saya ingat kurang lebih terdengar seperti “dari kepala hingga pundak” atau sejenisnya, lah. Saya tidak begitu yakin, tapi maknanya seperti itu. Ini setelah chant template “oi-oi-oi-oi” yang kita biasa dengar. Lagu itu adalah lagu yang sangat saya kenal, sebuah komposisi apik yang diberi judul nerve. Yap, di lagu pertamanya di panggung Ennichisai 2016, Love Android mendaur ulang nerve dengan sentuhan electro dan menjadikannya sebagai intro mereka.

Saat saya pertama kali mengenal BiS beberapa tahun lalu, dan mengagumi betapa hebatnya Pour Lui mengemas image BiS sebagai idol yang mendobrak kewajaran dengan segala kontroversinya, nervebeserta IDOLmerupakan sebuah karya yang saya yakini merupakan potongan penting dalam sejarah idol group dalam hidup saya (awalnya saya ingin menulis “potongan penting dalam sejarah idol group Jepang”, tapi rasanya itu terlalu mudah diperdebatkan).

Dan ketika nerve dan shrimp dance nya mencuat sejak tahun 2011, tidak pernah terbayang dalam benak saya, suatu saat saya akan merasakan apa yang baru saya rasakan malam itu. Celetukan berbahasa Indonesia. Jika saya kembali ke masa lalu dan mengatakan hal ini pada saya di dunia paralel itu, mungkin dia pun masih tak akan percaya. Penggemar BiS bukanlah tipe penggemar yang bisa senang dengan membuat chant seperti itu (dan nampaknya saya salah!).

Karena itu, saya mencoba merunut apa yang baru saja terjadi secara kronologis. Dimana mereka bisa terlintas ide untuk membuat chant dengan sentuhan kearifan lokal untuk lagu nerve? Yang pertama terlintas tentu saja Dorothy Little Happy, idol group yang juga pernah bertandang ke Jakarta meski saat itu mereka tidak membawakan nerve. Jika BiS adalah iblis, maka Dorothy Little Happy adalah malaikat.

Saat BiS merilis cover album kontroversial dimana para personilnya tampil tanpa busana, Dorothy Little Happy tampak seperti kembang desa lengkap dengan high heels dan balutan dress yang anggun. Ini yang nampaknya menjadi ide utama dalam kolaborasi mereka dalam sebuah split-release berjudul Get You. Get You dirilis dalam dua versi, versi BiS dan versi Dorothy Little Happy, dimana dalam versi milik Dorothy Little Happy, nerve menjadi coupling dalam rilisan tersebut.

BiS juga pernah merilis split bersama Dempagumi Inc., meski rilisan itu hanya dijual dalam sebuah event saja. Dempagumi menggubah ulang IDOL sementara BiS menyulap Denden Passion. Memang nerve tidak dilibatkan kali itu, tetapi mungkin popularitas Dempagumi yang sudah berkali-kali berkunjung ke Indonesia membuat para penggemar idol Jepang di Indonesia memperluas katalog musik digital mereka dengan mengoleksi lagu-lagu BiS. Dan sekali saja kalian mengenal BiS, sulit untuk tidak mengetahui nerve. Sejak pertama kali terbentuk, nerve sudah direkam ulang sebanyak tiga kali setiap BiS berganti personil. Rilisan terakhir BiS sebelum bubar, Final Dance, juga disisipi lagu nerve.

Atau mungkin nerve semakin menjangkau para penggemar idol di tanah air ini saat sebuah projek perpisahan sebelum bubarnya BiS, bertajuk “日本エヴィゾリ化計画” (Nihon Ebizorika Keikaku) dimana sejumlah idol dan solois meniru potongan gerakan dance di lagu nerve. Sejumlah nama besarselain dua nama diatasseperti Tokyo Girls’ Style, Bellring Shoujo Heart, Especia, hingga grup lebih kecil seperti Necronomidol dan gadis serba bisa favorit saya, Oomori Seiko, turut terlibat dalam projek perpisahan ini.

Lalu, nerve juga menjadi lagu yang kerap kali dibawakan oleh idol lokal terbaik versi saya, Lumina Scarlet. Tanpa bermaksud subjektif, aksi idol group asal Bandung ini luar biasa enerjik, dan bukannya tanpa cela, tapi siapapun yang menyaksikan mereka harus mengakui kalau usaha mereka dalam tampil diatas panggung sangat luar biasa. Lumina Scarlet (LuSca) baru saja menjadi wakil Indonesia dalam festival musik yang diadakan di Jepang juga, jadi saya tidak melebih-lebihkan, karena festival musik itu pun sepertinya setuju dengan pendapat saya. Meski saya tidak terafiliasi sama sekali dengan LuSca, ada sedikit rasa bangga saat menelusuri Twitter dan menemukan sejumlah fans Jepang mereka yang menyaksikan penampilan idol yang kerap berdandan ala Srikandi ini akhir pekan lalu di Hamamatsu, Jepang.

Keterbatasan lagu orisinil membuat LuSca menambahkan lagu-lagu populer sebagai pelengkap penampilan mereka. Lagu-lagu milik Berryz Koubou, Momoiro Clover Z, dan berbagai idol lain dibawakan lengkap dengan koreografinya. Tidak terkecuali pula, BiS. Mungkin disini pertama kalinya celetukan itu dimulai. Pertama kali saya menyaksikan nerve dibawakan oleh LuSca adalah saat mereka sepanggung dengan Kamen Joshi di Countdown Asia, jadi sudah satu tahun lebih setidaknya LuSca mempopulerkan lagi nerve di lingkungan mereka.

Selain Lumina Scarlet, saya juga cukup yakin ada beberapa cover group atau idol group lokal yang sudah pernah membawakan nerve. Gerakan shrimp dance mudah diingat dan bisa membangkitkan suasana, sehingga bukan tidak mungkin popularitas nerve akan terus berkembang di berbagai penjuru dunia meski BiS sudah lama bubar.

Tidak heran jika ketika Love Android juga membawakan nerve di Jakarta, para penonton yang mungkin memang mengikuti perkembangan idol secara intensif secara naluri langsung meluapkan ekspresi mereka dengan cara mereka sendiri.

Sama sekali tidak salah kok, saya memang hanya terkejut dan tergelitik saat pertama kali mendengarnya. Salahnya, saya tidak terpikir untuk langsung bertanya pada mereka. Selain sedang asik menikmati lagu, saya juga tidak merasakan adanya urgensi untuk menanyakan hal trivial seperti ini. Paragraf-paragraf diatas hanyalah buah pemikiran yang suka muncul saat saya sudah terbaring lemas di kasur saya, merekam ulang kejadian seharian yang baru saya lalui.

Jadi lain kali kalian mendengarkan intro nerve di Indonesia, jangan heran dan jangan terkejut dengan apa yang mungkin akan terjadi. Lagu itu ternyata sudah sangat populer di kalangan penggemar idol di Indonesia!

Omong-omong, darimana kalian pertama kali kenal dengan nerve?

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment




About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.