Sanfrecce Hiroshima: Misi Mempertahankan Gelar Juara




Tidak banyak perubahan berarti dari skuat Sanfrecce Hiroshima dalam misi mereka mempertahankan gelar juara

Sebelum tahun 2011, Sanfrecce Hiroshima mungkin adalah klub original J.League yang paling tidak dikenal banyak orang. Tidak ada prestasi yang menonjol ataupun pemain-pemain bintang, membuat nama mereka tidak lah populer untuk para penggemar sepakbola diluar Jepang.

Profile 

Sanfrecce Hiroshima terlahir dengan nama Toyo Kogyo Soccer Club pada tahun 1938, kemudian berubah menjadi Mazda SC dibawah kepemilikan Mazda. Ini adalah salah satu tim tersukses di era Japan Soccer League.

Jelang bergulirnya J.League, mereka berganti nama menjadi Sanfrecce yang diambil dari bahasa Italia yang memiliki arti anak panah dan menjadikan Stadion Hiroshima Big Arch yang sekarang berubah menjadi Stadion Edion sebagai markas mereka.

Sanfrecce berhasil meraih juara putaran pertama J.League musim 1994, namun sayang di partai final, mereka dikalahkan oleh Verdy Kawasaki yang kala itu diperkuat oleh Kazuyoshi Miura.

Setelah itu prestasi mereka justru menurun setiap musimnya hingga harus terdegradasi ke divisi dua pada tahun 2002. Sanfrecce menjadi tim pertama yang pernah meraih gelar paruh musim yang harus rela turun ke kasta kedua.

Semusim di divisi dua, mereka kembali ke kasta tertinggi meski prestasinya tak kunjung membaik, dan terkena degradasi lagi ditahun 2007.

Perubahan nasib Sanfrecce Hiroshima terjadi ketika mereka ditinggalkan oleh Mihailo Petrovic ke Urawa Red Diamonds. Posisinya sebagai pelatih digantikan oleh salah satu asistennya Hajime Moriyasu.

Semasa menjadi pemain, Moriyasu menghabiskan 14 tahun bersama Sanfrecce dan ia pun mencoba membangun tim yang membesarkan namanya.

Kejutan terjadi dimana Sanfrecce meraih gelar juara Liga pertama kalinya dimusim perdana Moriyasu menjadi pelatih. Mereka berhasil menyisihkan tim-tim besar kandidat juara seperti Urawa Red Diamonds, Yokohama F. Marinos dan Kashima Antlers.

Prestasi Sanfrecce ketika itu dinilai hanya kebetulan semata dan lebih ke faktor keberuntungan. Hal yang bisa diwajari karena tidak ada nama besar yang ada di skuat mereka.

Hisato Sato dan Toshihiro Aoyama menjadi jantung permainan Sanfrecce Hiroshima di era Hajime Moriyasu
Hisato Sato dan Toshihiro Aoyama menjadi jantung permainan Sanfrecce Hiroshima di era Hajime Moriyasu

Moriyasu berhasil membentuk tim yang solid tanpa bergantung kepada pemain bintang. Namun tidak bisa dipungkiri jika Toshihiro Aoyama dan Hisato Sato adalah pusat permainan klub kebanggan warga Hiroshima tersebut.

Disaat masih banyak yang menganggap keberhasilan Sanfrecce karena dinaungi dewi fortuna, mereka justru bisa mempertahankan gelar juara Liga meski ada beberapa pemain utama yang pindah.

Kolektivitas permainan yang ditancapkan oleh Moriyasu sekali lagi membuktikan jika tanpa nama besar, prestasi terbaik masih bisa diraih. Hal yang kembali dibuktikan saat meraih gelar juara musim lalu meski Urawa Red Diamonds dan Gamba Osaka lebih diunggulkan.

Merengkuh gelar juara Liga tiga kali dalam empat tahun terakhir, seharusnya sudah menjadi bukti jika Sanfrecce Hiroshima adalah tim terbaik di Jepang sekarang ini.

Peluang musim 2016

Sanfrecce selalu bisa membuktikan meski setiap musim pemain kunci mereka ada yang pergi, akan selalu bisa digantikan perannya oleh pemain lain.

Untuk musim 2016, Sanfrecce ditinggal oleh penyerang sekaligus topskor mereka musim lalu Douglas yang dipinang oleh klub asal UEA Al Ain FC.

Sebagai gantinya, Sanfrecce berhasil mendatangkan mantan penyerang timnas Nigeria Peter Utaka dengan status pinjaman dari Shimizu S-Pulse.

Meski musim lalu gagal menyelamatkan S-Pulse dari degradasi, Utaka adalah salah satu penyerang terbaik yang ada di Jepang sekarang ini.

Peter Utaka akan diberikan tanggung jawab menjadi tukang gedor utama musim ini menggantikan posisi Douglas
Peter Utaka akan diberikan tanggung jawab menjadi tukang gedor utama musim ini menggantikan posisi Douglas

Utaka nantinya akan bahu membahu dengan Sato ataupun Takumi Asano yang musim lalu terpilih sebagai pemain muda terbaik J.League.

Kabar baik lainnya adalah Mihael Mikic memutuskan bertahan di Hiroshima setelah sebelumnya bek kanan asal Kroasia itu santer diberitakan akan pergi. Selain Sato dan Aoyama, Mikic adalah salah satu pemain yang membangun Sanfrecce menjadi tim terbaik.

Secara keseluruhan, tidak ada perubahan banyak di skuat Sanfrecce untuk musim 2016. Moriyasu masih percaya dengan sebagian besar pemain yang sudah menjadi fondasi tim dalam beberapa tahun terakhir.

Pelatih berusia 47 tahun itu memang lebih suka dengan pemain yang sudah lama ia kenal dan sudah lama bermain bersama karena akan mempermudah menjalankan skema permainan yang ia inginkan.

Dengan skuat yang hampir sama dari musim lalu dan perekrutan pemain yang tepat, Sanfrecce tentunya masih menjadi kandidat paling serius untuk gelar sekaligus mengejar rekor menjadi tim kedua setelah Kashima Antlers yang sukses mempertahankan gelar juara di musim berikutnya.

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment




About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.