Pasca Penikaman Seorang Idol, Undang-undang Anti-stalking Mulai Dipertanyakan




Pasca Penikaman terhadap idol wanita berusia 20 tahun Mayu Tomita telah memicu diskusi atas efektivitas undang-udang hukum anti-stalking.

Menurut beberapa ahli seharusnya undang-undang tersebut harus mencakup pernyataan yang jelas tentang pencegahan sejenis menguntit secara online, seperti yang terjadi pada kasus Mayu Tomita baru-baru ini.

Menurut seorang pengacara asal Tokyo yang sudah berpengalaman, Yohei Shimizu “Undang-undang anti-stalking tersebut tidak bisa langsung menindak penguntit lewat situs jaringan sosial, karena untuk saat ini undang-undang tersebut tidak memiliki pasal untuk menjerat kasus pelecehan atau penguntitan melalui media sosial”.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, telah terjadi penikaman atas seorang idola yang bernama Mayu Tomita pada hari sabtu (21/05/2016) kemarin oleh salah satu penggemarnya yang bernama Tomohiro Iwazaki . Hingga kini ia masih dalam kondisi yang kritis setelah menerima hampir dua puluh kali tusukan di leher dan dada.

Sebelum melancarkan aksinya tersebut, sang pelaku telah berulang kali mengirim pesan ke akun twitter sang idola karena merasa kecewa hadiah pemberiannya dikembalikan.

Mayu sendiri sebelumnya sudah mengunjungi kantor polisi dekat rumahnya di pinggiran kota Musashino, Tokyo dan meminta mereka untuk menindak Iwazaki yang telah melecehkan dirinya di situs jejaring sosial.

Mengutip Kyodo News, meskipun Mayu sudah memberi nama dan alamat Iwazaki ke polisi pada tanggal 9 Mei, tetapi polisi tidak langsung menghubungi sang pelaku dengan alasan mereka perlu mengkonfirmasi bahwa apakah pesan tersebut benar-benar ditulis oleh sang pelaku.

Polisi setempat tersebut juga tidak langsung menyerahkan kasus tersebut ke unit yang bertugas menangani kasus penguntitan dengan alasan bahwa pesan twitter tersebut tidak menunjukkan sebuah ancaman langsung.

Sementara itu, ibu dari Mayu dikabarkan juga sudah menelepon kepolisian Kyoto pada tanggal 4 Mei untuk meminta mereka melakukan sesuatu tentang seseorang yang menguntit anaknya di media social.

Sang penguntit diperkirakan tinggal di Kyoto, tapi polisi setempat menyuruhnya untuk menghubungi polisi di Tokyo, di mana putrinya tinggal.

Kelalaian dan lambatnya respons dari polisi untuk menindak lanjuti laporan dari korban membuat banyak pihak mempertanyakan kembali tentang undang-udang anti-stalking yang sebenarnya sudah diberlakukan di Jepang.

Menurut Shimizu, polisi seharusnya merespon laporan dari korban dan menghubungi Iwazaki serta mengkonfirmasi apakah akun tiwtter anonim itu miliknya

“Walaupun orang itu mengatakan ia tidak ada hubungannya dengan akun twitter tersebut, telepon dari polisi itu bisa menjadi peringatan dan memungkinkan untuk mencegah Iwazaki melakukan serangan sadis itu,”

“Akun twitter yang diyakini milik Iwazaki itu dibuat pada bulan Januari dan digunakan untuk mengirim pesan normal untuk Mayu pada awalnya. Namun pada bulan Februari akun tersebut mulai menunjukkan sikap agresif terhadap Mayu.” ungkap Kyodo News

Pemilik akun twitter anonim itu mengatakan kalau ia pernah mengirim sebuah jam tangan untuk Mayu antara Januari dan Februari. Tapi tampaknya hadiah tersebut dikembalikan oleh Mayu ke Iwazaki pada bulan April.

Kyodo News juga mengungkapkan jika Iwazaki mengatakan kepada polisi dimana ia sangat marah karena Mayu telah mengembalikan hadiah tersebut.

“Saat ini undang-undang anti-stalking sudah direvisi pada tahun 2013, namun pasal yang mengutip di undang-undang tersebut tidak melarang pengiriman pesan berulang kali di media sosial jika dapat dilihat oleh orang lain, tetapi undang-undang dapat menjerat si penguntit apabila pesan tersebut tidak terlihat seperti melalui telepon, fax dan email.” ungkap Shimizu.

Shimizu juga mengatakan hukum juga dapat mencakup pesan di media sosial jika isi pesan tersebut bernada kasar dan ancaman. Namun untuk kasus Mayu, polisi merasa pesan di twitternya itu  tidak bernada ancaman.

“Menguntit di media sosial tidak dapat langsung dilawan dengan hukum anti-menguntit saat ini. Membutuhkan pasal yang jelas tentang pengaturan pelecehan seperti itu. Jika tidak, undang-undang nantinya tidak akan dapat berfungsi dengan baik.” tegas Shimizu

Seorang pengacara lain yang berasal dari Osaka Eiichi Mori juga senada dengan apa yang dinyatakan Shimizu dimana iaberharap undang-undang segera direvisi agar tidak terjadi kejadian seperti apa yang dialami oleh Mayu.

“Undang-undang harusnya direvisi terus-menerus untuk mengejar ketinggalan dengan kemajuan teknologi yang terus berkembang pesat, walaupun saat ini sudah terlalu terlambat untuk merevisi undang-undang tersebut setelah apa yang sudah terjadi, setidaknya dengan merevisi undang-undang ini dapat mencegah tragedi yang sama dikemudian hari.”

Sumber : japantimes

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment




About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.