Melawat ke Kandang Omiya Ardija




Suasana jalan di depan stasiun Omiya dengan bendera Omiya Ardija dan Nagoya Grampus

Sebagai pecinta sepakbola, salah satu agenda wajib saat berkunjung ke Jepang adalah menonton pertandingan sepakbola langsung di stadion, dan saya merasa cukup beruntung mendapatkan kembali kesempatan untuk menonton tim kebangaan saya Nagoya Grampus bertanding ketika berada di Negeri Sakura.

Sempat putus asa karena waktu saya berkunjung ke Jepang kali ini bertepatan dengan pertandingan internasional, akhirnya terselamatkan dengan jadwal pertandingan Nabisco Cup (Piala Liga) yang dirilis satu minggu jelang keberangkatan saya ke Jepang.

Semakin merasa beruntung karena jadwal Grampus bertandang ke Omiya Ardija. Jarak Omiya dengan Tokyo yang tidak jauh, membuat saya langsung memutuskan membeli tiket di 711 ketika sampai di Jepang.

Di hari pertandingan, saya memutuskan untuk berangkat menuju Omiya sejak siang hari meski kick-off pertandingan berlangsung pukul 7 malam. Karena ini adalah kunjung pertama ke Omiya, saya bermaksut ingin menikmati kota kecil yang berada di Prefektur Saitama itu.

Untuk menuju Omiya pun terbilang sangat mudah karena masih bisa menggunakan kereta JR. Saya berangkat dari stasiun Shinjuku dengan menggunakan kereta JR Saikyo Line Rapid menuju stasiun Omiya. Karena ini kereta Rapid, maka tidak berhenti di semua stasiun yang dilewati sehingga mempersingkat waktu perjalanan.

Setelah menghabiskan 30 menit perjalanan, saya pun sampai di stasiun Omiya. Begitu melangkah keluar, sangat terkejut karena atmosfir pertandingan sudah terasa dengan banyaknya bendera Ardija dan Grampus di sepanjang jalan.

Bendera Omiya Ardija dan Nagoya Grampus di jalanan protokol Omiya
Bendera Omiya Ardija dan Nagoya Grampus di jalanan protokol Omiya

Hal ini serupa dengan apa yang sering dilakukan Grampus ketika akan bertanding di Nagoya dimana bendera klub akan terpajang di sepanjang jalan Sakae. Promosi pertandingan juga dilakukan dengan menempel poster klub dan pertandingan di tempat-tempat makan dan konbini.

Hal ini adalah salah satu upaya klub sepakbola di Jepang untuk menarik minat penonton dan menandingi kepopularitasan baseball yang masih menjadi olahraga nomor satu disana.

Poster promo pertandingan kandang Omiya Ardija yang terpampang di depan konbini
Poster promo pertandingan kandang Omiya Ardija yang terpampang di depan konbini

Untuk menuju stadion NACK5, markas dari Ardija, hanya cukup berjalan kaki selama 20 menit dari stasiun. Karena Omiya tergolong kota kecil, lalu lintas dan kehidupan disini tampak lebih tenang dan nyaman jika dibandingkan dengan Tokyo. Di sepanjang perjalanan, saya menjumpai banyak suporter tuan rumah yang menggunakan sepeda untuk menuju stadion.

Ketika google maps menujukan jarak stadion hanya tinggal beberapa meter saja, saya dibuat kagum dengan keadaan di sekitar stadion dimana terdapat sebuah kuil Shinto yang sangat indah dan megah. Kuil ini bernama Hikawa dan menjadi pusat semua kuil Hikawa yang ada di Jepang.

Tidak jauh dari kuil, terdapat sebuah taman besar yang juga sangat indah. Karena pada saat itu di Jepang sudah memasuki musim semi, bunga Sakura pun mulai bermekaran dan semakin membuat indah taman yang terletak persis di depan stadion itu.

Suporter Omiya Ardija duduk dibawah pohon sakura untuk menunggu pertandingan
Suporter Omiya Ardija duduk dibawah pohon sakura untuk menunggu pertandingan

Karena jadwal pertandingan masih akan berlangsung beberapa jam lagi, banyak suporter Ardija yang berdoa kuil dan melakukan hanami di taman. Tidak sedikit yang juga berbaur dengan suporter Grampus. Ini adalah nilai lebih, sekaligus kekurangan dari keadaan sepakbola di Jepang.

Mereka menciptakan suasana yang tenang antar suporter, sehingga jarang ada bentrok antar penonton. Tidak ada rivalitas yang kadang justru membuat atmosfir pertandingan tidak menjadi panas layaknya pertandingan di Liga Eropa ataupun di Indonesia. Ini adalah salah satu upaya dari federasi Jepang yang ingin menciptakan suasana pertandingan sepakbola layaknya rekreasi atau piknik bersama.

Setelah puas mengelilingi kuil dan taman, saya pun langsung masuk ke dalam stadion melalui pintu 3 atau pintu khusus untuk suporter tamu bersama suporter Grampus lainnya. Sesampainya di dalam, kami menaruh tas di kursi, kemudian pergi keluar lagi untuk menikmati makanan dan minuman yang dijual di depan pintu.

Banyak suporter yang meninggalkan tas sebagai tanda tempat duduk mereka sebelum pertandingan dimulai
Banyak suporter yang meninggalkan tas sebagai tanda tempat duduk mereka sebelum pertandingan dimulai

Kultur orang Jepang yang tidak akan menganggu barang yang bukan miliknya membuat tas-tas yang ditinggalkan di dalam stadion akan aman, tidak akan ada maling yang mengambilnya. Ini adalah ketiga kalinya saya menonton pertandingan sepakbola di Jepang, dan terbukti tas selalu aman ketika ditinggalkan di dalam stadion.

Di tempat makanan dan minuman pun tidak ada batasan antara suporter tim tuan rumah dan tim tamu, mereka semua berbaur menjadi satu. Banyak dari mereka yang bertegur sapa meski mungkin tidak saling mengenal dan melupakan atribut tim yang mereka dukung,

Para suporter menikmati makanan dan minuman tepat di depan pintu mask stadion
Para suporter menikmati makanan dan minuman tepat di depan pintu mask stadion

Satu nilai lebih lain menonton pertandingan di Jepang adalah dengan banyaknya suporter wanita dan anak-anak yang datang ke stadion. Suasana yang aman membuat mereka tidak takut untuk datang ke stadion guna mendukung tim kesayangannya.

Tepat pukul 7 malam pertandingan pun dimulai. Stadion mulai terisi penuh. Suporter dari kedua tim mulai melempatkan chant penyemangat para pemain. Suasana ini lah yang saya rindukan setelah terakhir menonton Grampus langsung di stadion tahun lalu di Kashima.

Pertandingan Nabisco Cup sebenarnya adalah pertandingan ‘tidak penting.’ Di Jepang, selain Liga dan Piala Liga, mereka mempunyai satu kompetisi lainnya yakni Emperor’s Cup atau Piala Kaisar dimana pemenangnya akan mendapatkan jatah lolos ke Liga Champions Asia. Hal ini lah yang membuat Piala Liga dinilai tidak mempunyai gengsi.

Kompetisi ini pun hanya diikuti oleh tim yang bermain di divisi utama, dimana empat tim yang berlaga di Liga Champions Asia diberikan hak istimewa tidak memainkan pertandingan di grup atau langsung lolos ke babak perempat final. Regulasi yang aneh, dan semakin membuat ajang ini tidak populer dikalangan suporter.

Suporter Nagoya Grampus sesaat sebelum pertandingan di Stadion NACK5
Suporter Nagoya Grampus sesaat sebelum pertandingan di Stadion NACK5

Selain itu karena pertandingan Nabisco Cup biasa digelar ditengah pertandingan internasional, tim yang pemainnya dipanggil untuk membela negaranya tidak bisa menggunakan jasa mereka. Untuk pertandingan ini, Grampus harus rela tidak diperkuat penyerang andalan mereka Kensuke Nagai yang sedang bersama Samurai Biru.

Ardija yang baru promosi kembali ke divisi utama, memainkan kekuatan penuh. Sedangkan Grampus selain harus bermain tanpa Nagai, mereka juga tidak membawa tiga pemain reguler mereka Seigo Narazaki, Taishi Taguchi, dan penyerang baru asal Swedia Robin Simovic yang sudah mencetak tiga gol di Liga.

Dengan kekuatan pincang, Grampus masih mampu menguasai jalannya pertandingan, sayangnya mereka tidak bisa memanfaatkan sejumlah peluang mereka ciptakan. Skor kacamata menutup jalannya babak pertama.

Di babak kedua, Grampus yang pernah dilatih Arsene Wenger tetap mengurung pertahanan tim tuan rumah. Disaat sedang asik menyerang, mereka justru kecolongan saat Ardija mencetak gol lewat satu-satunya peluang emas yang mereka ciptakan di sepanjang pertandingan. Gol yang menjadi pembeda hingga wasit meniupkan peluit pertandingan.

Skor akhir pertandingan antara Omiya Ardija melawan Nagoya Grampus
Skor akhir pertandingan antara Omiya Ardija melawan Nagoya Grampus

Meski Grampus menderita kekalahan, saya tidak sedikitpun merasa kecewa karena mungkin ini cuma pertandingan Nabisco Cup yang tidak penting, dan juga karena merasa sangat senang dengan pengalaman mengunjugi Omiya dan Stadion NACK5.

Stadion yang hanya memiliki kapasitas sebanyak 15,000 kursi penonton ini memang tergolong kecil, namun memilliki lingkungan sekitar yang sangat luar biasa. Pengalaman menonton di Omiya jauh lebih menyenangkan dibandingkan ketika menonton Grampus di Kawasaki dan Kashima sebelumnya.

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment




About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.