‘Kotak Pos’ Berwarna Putih, Tempat Untuk Membuang Buku Pornografi




Berbagai model kotak pos putih yang digunakan untuk membuang barang pornografi

Kotak pos identik dengan warna merah, tak terkecuali di Jepang. Namun, ada sebuah kotak yang menyerupai kotak pos dengan warna putih di Jepang yang ternyata menjadi tempat unuk membuang buku pornografi yang sudah tidak dibaca lagi oleh pemiliknya.

“Kotak pos putih sebenarnya ada di Amagasaki sejak tahun 1961,” ujar pejabat pemda Amagasaki, Yanagita dan Miki kepada pers seperti yang kami lansir dari Tribunnews.

Pada tahun 1980, ada sekitar 8 kotak pos bewarna putih di stasiun Amagasaki yang digunakan para penduduk setempat untuk membuang barang-barang yang berhubungan dengan dunia pornografi. Meski sebagai tempat pembuangan, kotak ini bukanlah tempat sampah. Bahlan ada beberapa kota yang bertuliskan “Ini bukan tepat sampah.’

Sekarang ini ada 13 kotak pos putih di Amagasaki yang tersebar diberbagai tempat. Saat pengumpulan barang-barang di dalam kotak, beratnya bisa mencapai 130 kilogram. Diperkirakan dalam setahun ada sekitar 6000 buku porno yang harus di daur ulang dari kotak tersebut.

“Ada pula barang-barang terkait porno, misalnya alat perangsang karet penis dan sebagainya. Kotak pos putih banyak diletakkan di tempat umum. Misalnya di dekat supermarket umum, di stasiun kereta api dan sebagainya.”

Kota Amagasaki yang terletak di sebelah tenggara perfektur Hyogo, memang terkenal dengan dunia pornografi, tempat para pekerja seks komersil (PSK) berkumpul serta bercampur orang miskin. Karena itulah kota ini kerap disebut ‘tempat kumuh’ oleh banyak orang Jepang.

Pada tahun 1950 industri penerbitan buku serta Asosiasi Orangtua Murid (PTA) berusaha amengantisipasi wabah seks komersil dan kekerasan. Terutama soal penerbitan buku pornografi. Setelah itu, kotak pos berwarna putih ini bermunculan.

“Bagus bukan adanya kotak pos putih? Daripada dibuang sembarangan (nantinya) bisa dilihat anak-anak. Lagipula membelinya dengan uang sendiri, tidak dibaca lagi ya dibuang sendiri,” ujar Watanabe seorang ibu rumah tangga di Amagasaki menanggapi kotak pos putih kepada Tribunnews.

Menurut catatan sejarah, cetakan buku pornografi dalam bentuk gambar di kayu dan media lainnya sebenarnya sudah ada di Jepang sejak zaman Edo atau sekitar tahun 1603 hingga 1868. Bahkan, ada perpustakaan di Jepang yang menyimpan buku-buku pornografi yang bisa dibaca secara gratis oleh penduduk Jepang di wilayah tertentu.

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment




About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.