Kashiwa Reysol: Menanti Kebangkitan Kuda Hitam Dari Chiba




Kashiwa Reysol saat meraih gelar Nabisco Cup 2013

Menjadi wakil liga Jepang dalam kompetisi antar klub asia, justru memberi dampak negatif kepada performa Kashiwa Reysol di kompetisi domestik.

Sempat diharapkan menjadi kuda hitam dalam persaingan di papan atas, mereka mengakhiri musim lalu dengan berada di peringkat 10 klasemen keseluruhan.

Jelang dimulainya musim baru, Reysol bersiap bangkit dan tampil menjadi batu sandungan bagi para tim unggulan yang hendak menempati papan atas klasemen.

Profil

Didirikan sebagai tim amatir berlabel Hitachi Ltd. Sccer Club pada tahun 1940, Mereka bermarkas di distrik Kodaira, salah satu wilayah dalam area kota metropolitan Tokyo. Sepanjang keikutsertaan mereka dalam berkompetisi di persepakbolaan Jepang, Hitachi tergolong cukup banyak memiliki catatan kesuksesan.

Beberapa kali merebut gelar Emperor’s Cup dan menjadi salah satu tim papan atas di Japan Soccer League merupakan cerminan prestasi Hitachi pada dekade 1970-an.

Pada dekade setelahnya, terjadi proses transisi yang akan mengubah sejarah klub, dimulai dengan melakukan relokasi tim ke markas baru di kota Kashiwa, prefektur Chiba. Seolah masih mencari angin dan beradaptasi dengan markas baru, tim ini tampil buruk di beberapa musim Japan Soccer League.

Pada saat kompetisi tersebut dibubarkan di tahun 1992, Hitachi menjadi salah satu klub yang mengakhiri musim di dasar klasemen.

Tampil dengan identitas baru sebagai Kashiwa Reysol, tim ini bergabung dengan kompetisi Japan Football League di tahun 1992, mereka memasang target untuk tampil di J.League pada musim berikutnya. Walaupun diperkuat bintang asal Brasil, Careca, Reysol baru mampu meraih tempat untuk berkompetisi di J.League pada musim 1995.

Promosi ini menandai dimulainya periode kesuksesan Reysol, setelah hanya mampu debut dengan menempati peringkat 12 klasemen, mereka berkembang dan konsisten berada di pos delapan besar klasemen dalam empat musim berikutnya.

Pada musim 1999, mereka mencicipi gelar perdana mereka dengan meraih titel juara Yamazaki Nabisco Cup. Di final mereka mengalahkan Kashima Antlers melalui babak adu pinalti. Kesuksesan mereka juga tercermin dengan menempati peringkat tiga di klasemen. Sementara di turnamen Emperor’s Cup mereka mencapai babak semifinal.

Banyak pihak yang menilai kesuksesan ini diraih berkat tangan dingin pelatih baru mereka, Akira Nishino, yang juga mengantar tim nasional sepak bola Jepang tampil di Olimpiade Atalanta 1996.

Hiroki Sakai menjadi salah satu tulang punggung Reysol ketika menjuarai JLeague 2011
Hiroki Sakai menjadi salah satu tulang punggung Reysol ketika menjuarai JLeague 2011

Selepas pergantian milenium, prestasi Reysol justru menurun, banyak berkutat di papan bawah kompetisi, mereka akhirnya mengalami degradasi di penghujung musim 2005.

Setelah berhasil kembali promosi ke J.League division 1 di awal musim 2007, setahun kemudian mereka mampu mencapai final Emperor’s Cup namun ditaklukkan oleh Gamba Osaka. Kembali terdgradasi di akhir musim 2009, Kashiwa Reysol kemudian mampu menciptakan sejarah baru.

Mereka meraih gelar juara J.League Division 2 di musim 2010, dan meraih kembali tempat untuk berkompetisi di Division 1. Setelah promosi, dominasi dan penampilan bagus Reysol berlanjut hingga pada akhir musim mereka mampu meraih gelar juara.

Ini adalah pencapaian pertama bagi sebuah tim di kompetisi sepakbola Jepang untuk meraih gelar juara dua divisi yang berbeda dalam dua musim berturutan. Berkat status juara liga, mereka menjadi perwakilan Jepang dalam turnamen Piala Dunia Antarklub dan mencapai fase semifinal sebelum dikalahkan klub Brasil, Santos.

Bermarkas di prefektur Chiba, menjadikan mereka secara regional dan historis menjadi rival dari klub tetangga JEF United. Walaupun pada beberapa musim terakhir mereka tak berkompetisi dalam divisi yang sama, mereka rutin bertemu dalam ajang kompetisi pra-musim. Pada pertemuan terakhir jelang musim baru 2016, JEF United sukses menaklukan Reysol dengan skor tiga gol tanpa balas.

Kandang mereka, Hitachi Kashiwa Soccer Stadium, menjadi senjata dalam meraih prestasi hingga saat ini. Mampu menampung secara maksimal sebanyak 15.900 orang penonton, tribun penonton tak berjarak jauh dengan garis tepi lapangan, sorak sorai pendukung pun mampu dirasakan oleh para pemain yang tampil di lapangan.

Stadion ini juga menjadi saksi perjalanan Reysol mencapai dua gelar domestik teranyar mereka, Emperor’s Cup di musim 2012, dan Yamazaki Nabisco Cup di musim 2013. Juga di tahun yang sama, dukungan penonton kandang mendorong mereka untuk tampil hingga fase semifinal Liga Champion Asia.

Peluang musim 2016

Persiapan menjelang musim baru 2016 bagi Kashiwa Reysol nampak tidak berjalan begitu ideal bagi Kashiwa Reysol. Tampil tidak begitu meyakinkan saat tampil di ujicoba melawan JEF United, skuad asuhan Milton Mendes nampak masih mencari bentuk permainan selepas ditinggal oleh sejumlah pilar pentingnya.

Penjaga gawang senior, Takanori Sugeno, memilih untuk tidak melanjutkan karirnya di Kashiwa dan hengkang menuju tim J.League division 2, Kyoto Purple Sanga. Kiper berusia 31 tahun tersebut merupakan pilar penting bagi Reysol setidaknya dalam tujuh musim terakhir.

Junya Tanaka berharap dapat mengembalikan peforma terbaiknya bersama Kashiwa Reysol
Junya Tanaka berharap dapat mengembalikan peforma terbaiknya bersama Kashiwa Reysol

Dua penjaga gawang senior yang tersisa, Kazushige Kirihata dan Koji Inada, akan bersaing menjadi palang pintu utama sepeninggal Sugeno.

Pergantian cukup mencolok juga nampak di lini belakang Reysol, kehadiran Jiro Kamata yang didatangkan dari tim papan bawah Vegalta Sendai seolah tak cukup.

Ia menambal barisan pemain belakang yang kini hanya meninggalkan Tatsuya Matsushima sebagai pilar untuk membimbing pemain yang lebih muda seperti Shinnosuke Nakatani.

Keraguan timbul karena pemain yang hengkang seperti Daisuke Suzuki (ke tim Segunda Liga, Gimnastic Tarragona), Kim Chang-soo(Jeonbuk Hyundai Motors, Korea), dan Masato Fujita(Sagan Tosu) memiliki peran cukup menonjol musim lalu.

Pilar senior, sekaligus produk binaan klub, Hidekazu Otani bakal memimpin lini tengah Reysol. Ia akan didukung oleh Akimi Barada, dan gelandang serang Yuki Otsu.

Reysol juga mendatangkan pemain asing berpaspor Timor Leste, Juliano Miniero dari tim liga utama Thailand, Chonburi.

Suplai bola dari para punggwa lini tengah diharapkan mampu memanjakan para pemain depan seperti Junya Tanaka, Diego Oliviera, dan Ederson. Para pemain tersebut akan menjadi kekuatan utama tim dalam persaingan menuju papan atas liga.

Tanaka, yang dipinjam dari klub liga Portugal Sporting Lisbon, juga menanggung beban menjadi sumber gol setelah top skor musim lalu, Masato Kudo, hengkang ke tim MLS, Vancouver Whitecaps.

Kesiapan tim asal prefektur Chiba ini sudah dinanti di laga pembuka liga oleh salah satu tim calon juara, Urawa Reds. Apabila tampil apik dan solid di laga pembuka, bukan tak mungkin status sebagai kuda hitam dan penjegal para tim besar akan kembali disandang oleh Hidekazu Otani dan kolega.

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment




About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.