Jubilo Iwata: Sang Raksasa Mencoba Bertahan di Tempat Yang Seharusnya




Dengan segudang prestasi dan nama besar mereka, Jubilo Iwata memang harus selalu berada di kasta tertinggi.

Ketika suatu klub memiliki segudang prestasi dan nama besar, sejatinya tim itu memang harus selalu berada di kompetisi tertinggi. Musim ini Jubilo Iwata akan kembali berlaga di kasta tertinggi J.League dan berusaha untuk terus berada di tempat yang memang seharusnya mereka berada.

Profile

Sejarah Jubilo Iwata berawal ketika Yamaha Motor Corporation seperti tidak mau kalah dengan perusahaan besar Jepang lainnya yang membentuk tim sepakbola.

Ketika asosiasi sepakbola Jepang membentuk J.League ditahun 1993, mereka tidak lolos seleksi dan harus rela tetap bermain divisi 1 JFL yang berada setingkat dibawahnya. Jubilo menyelesaikan musim sebagai runner-up dan mendapatkan tiket bermain di J.League.

Sadar kondisi mereka sebagai tim promosi, Jubilo membuat gebrakkan untuk mempersiapkan debut mereka di kasta tertinggi dengan mendatangkan bintang tim nasional Italia sekaligus topskor Piala Dunia 1990 Salvatore Schillaci.

Bersama pemain lokal seperti Masashi Nakayama, Hiroshi Fujita dan Hiroshi Nanami mereka menjadi kerangka permainan klub dan akhirnya dilengkapi oleh kedatangan kapten tim nasional Brazil, Dunga.

Jubilo pun menjelma menjadi kekuatan baru di J.League dan menyaingi kepopularitasan tim-tim papan atas seperti Verdy Kawasaki (sekarang menjadi Tokyo Verdy), Kashima Antlers dan Yokohama Marinos. Mereka membuka catatan prestasi di era modern saat menjadi juara liga ditahun 1997.

Periode 1997-2003 menjadi era keemasan Jubilo. Dalam rentan tujuh tahun tersebut mereka berhasil merengkuh tiga gelar juara, tiga kali berada diposisi kedua serta melengkapinya dengan satu gelar juara Piala Liga dan Emperor’s Cup. Jubilo juga sukses melahirkan salah satu wonderkid Jepang ketika itu yakni Naohiro Takahara yang berhasil menjadi MVP J.League di tahun 2002.

Sukses sebagai pemain, Hiroshi Nanami juga diharapkan berhasil di karir kepelatihannya bersama Jubilo Iwata
Sukses sebagai pemain, Hiroshi Nanami juga diharapkan berhasil di karir kepelatihannya bersama Jubilo Iwata

Sayangnya setelah meraih gelar Emperor’s Cup 2003 dan ditinggal Takahara ke Eropa, prestasi Jubilo kian menurun. Lambatnya regenerasi skuat menjadi salah satu faktor utama kemunduran mereka.

Saat itu mereka masih sangat bergantung kepada Nakayama dan Nanami, meski status dua pemain ini adalah legenda klub, keduanya sudah mulai dimakan usia. Tidak bisa mendatangkan pemain asing yang tepat juga menjadi kendala Jubilo.

Jangankan menjadi salah satu tim yang bersaing untuk meraih gelar juara, masuk 10 besar pun menjadi sulit dan perlahan juga mereka mulai dilewati oleh sang rival lokal Shimizu S-Pulse yang selalu menyelesaikan musim dengan posisi diatas Jubilo sejak tahun 2006. Produktivitas Ryoichi Maeda pun seperti sia-sia karena tidak di dukung oleh materi tim yang mumpuni.

Sempat meraih gelar Piala Liga di tahun 2010, prestasi mereka di Liga tidak kunjung membaik sampai akhirnya tragedi besar terjadi di musim 2013. Menempati posisi ke-17, sang raksasa harus menundukkan kepala mereka dan rela turun ke kasta kedua.

Dibawah asuhan mantan legenda mereka Hiroshi Nanami, Jubilo akhirnya sukses promosi untuk kembali bermain di J1. Pria yang semasa menjadi pemain pernah berkiprah di Serie A bersama Venezia itu diberikan tanggung jawab untuk mengembalikan kembali kejayaan salah satu klub tersukses dalam sejarah J.League.

Prediksi musim 2016

Setelah Masashi Nakayama, Naohiro Takahara, Ryoichi Maeda, posisi penyerang utama di Jubilo Iwata diberikan kepada striker yang tidak kalah menakutkan yakni Jay Bothroyd. Mantan penyerang timnas Inggris itu menjadi salah satu kunci sukses keberhasilan tim berhasil promosi.

Bothroyd adalah topskor J2 musim lalu, dan musim ini akan menjadi pembuktian jika ia juga mampu menggelontorkan banyak gol di kasta tertinggi Liga Jepang.

jay baru
Jay Bothroyd harus membuktikan jika ketajamannya bukan hanya saat melawan tim-tim dari divisi dua

Sementara penyerang asal Brazil Adaílton kembali akan menjadi duet Bothroyd usai statusnya dipermanenkan oleh Jubilo. Dua pemain ini bisa menjadi momok menakutkan untuk tim-tim lawan.

Skuat Jubilo memang tidak banyak perubahan untuk mengarungi musim ini. Pelatih Nanami masih yakin dengan mayoritas pemain yang membawa Jubilo promosi.

Mereka hanya ditinggalkan oleh Masahiko Inoha. Mantan pemain timnas Jepang itu tidak perpanjang kontraknya.

Promosinya Jubilo ke J1 juga akan menjadi ajang kembalinya Daisuke Matsui ke J1.

Salah satu gelandang terbaik Jepang di era 2000’an itu akan kembali bersaing dengan rekan-rekan lamanya seperti Shunsuke Nakamura, Yasuhito Endo, dan Mitsuo Ogasawara.

Meski sudah berusia 34 tahun, kemampuan Matsui masih terbilang mumpuni dalam mengatur ritme permainan seperti yang ia tampilkan musim lalu di J2.

Selain lini depan, salah satu kekuatan utama Jubilo terletak pada penjaga gawang mereka Krzysztof Kamiński. Kiper asal Polandia itu adalah tembok tebal yang sulit ditembus para pemain lawan dan menjadi penyelamat lini belakang yang kerap menjadi titik lemah dimana Nagisa Sakurauchi maupun Yoshiaki Fujita sering tidak konsisten.

Hanya bermodalkan nama besar dan prestasi di masa lalu memang bukan jaminan untuk Jubilo bisa bersaing di J1, namun setidaknya mereka mempunyai skuat yang pantas untuk bermain di level tertinggi.

Tugas Nanami untuk bisa meramu taktik yang mumpuni agar setidaknya bisa membawa Jubilo tidak terkena degradasi kembali karena memang masih butuh waktu mereka bisa mengulangi kesuksesan du era 90-an.

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment




About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.