Titik Evakuasi di Kumamoto dan Oita Tidak Ramah Untuk Orang Asing




Setelah diguncang gempa berkali-kali, Prefektur Kumamoto dan Oita menghadapi sebuah permasalahan besar yakni kurangnya dukungan dan bantuan untuk orang asing dan terlihat tendensi bahwa “masyarakat Jepang menjadi prioritas paling utama” dalam perencanaan penanganan bencana di tiap kota.

Di hampir seluruh titik evakuasi di masing-masing prefektur hanya terdapat panduan dalam bahasa Jepang saja.

Untuk memastikan keselamatan dari para turis asing, pemerintah Jepang meminta orang asing untuk diberikan status yang sama dengan penyandang disabilitias.

Namun pada kenyataannya, mayoritas orang asing yang berada di daerah bencana justru merasa terisolasi dan harus bersusah payah ke titik evakuasi karena kendala bahasa.

Song Tham, 54, seorang turis dari Thailand yang tiba satu hari setelah gempa utama pada 17 April, merasa terkejut dengan penanganan yang ia dapatkan di sebuah sekolah dasar yang menjadi titik evakuasi di Yufu, Prefektur Oita. Ia mengungkapkan bahwa dirinya tidak bisa tidur karena kedinginan.

Ia bersama dengan 7 orang anggota keluarga lainnya berencana untuk pergi berlibur ke Kumamoto Castle dan kemudian menuju ke Yufu, tempat yang terkenal diantara turis asing karena terdapat pemandian air panas Yufuin Onsen.

Setelah menghubungi Kedutaan Besar Thailand di Jepang, Song diinstruksikan untuk menuju titik evakuasi. Tetapi ia tidak dapat menemukan satu orang pun yang bisa berbahasa inggris. Bahkan ia akhirnya harus bertanya ke seorang wartawan tentang bagaimana cara kembali ke Bangkok.

Dylan Thomas, 21, yang tiba dari Amerika Serikat untuk studi singkat pada Bulan Maret, selalu menggunakan smartphone nya selama di titik evakuasi di Beppu, Prefektur Oita, untuk mendapatkan informasi. Ia mengatakan bahwa ia takut kembali ke tempat ia tinggal di Jepang karena berdekatan dengan laut dan terdapat peringatan akan kemungkinan tsunami. Ia pun memutuskan untuk meminta bantuan penerjemah dari temannya melalui Facebook.

Permasalahannya bukan hanya para turis tersebut tidak terbiasa dengan kehidupan dan bahasa Jepang, sebagian dari mereka juga belum pernah merasakan gempa bumi sebelumnya.

Pada tahun 2014, Badan Turisme Jepang menciptakan sebuah buku panduan keselamatan untuk turis asing dan meminta masing-masing pemerintah kota untuk memformulasikan sebuah sistem agar menurunkan penerjemah sukarelawan ke titik evakuasi. Beberapa telah mengambil pendekatan tersebut dengan menginstalasi sistem peringatan bencana dalam beberapa bahasa.

Namun menurut salah satu pemerintah kota, perencanaan penanganan bencana di berbagai kota tetap memprioritaskan orang Jepang.

Universitas Ritsumeikan Asia Pacific di Beppu memiliki 3.300 mahasiswa asing. Mereka telah melakukan pelatihan tanggap bencana kepada para mahasiswanya.

Walaupun sejumlah kertas multi-bahasa dalam 4 bahasa telah disiapkan untuk memfasilitasi komunikasi di daerah bencana, hal tersebut belum cukup untuk saat seperti ini.

Tetapi tidak semua titik evakuasi memiliki kekurangan serupa. Kumamoto City International Center menjadi salah satu titik yang berusaha memberikan pelayanan terbaik. Mereka memiliki panduan dalam 5 bahasa berbeda di pintu masuknya dan memiliki staf yang dapat berbahasa Inggris.

Sumber: Japan Today

Foto: Google

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment




About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.