Undang-undang Anti-Stalking Akan Diamandemen Untuk Melindungi Publik Figur




Kejadian naas yang menimpa Mayu Tomita mendorong Pemerintah Jepang untuk merivisi Undang-undang anti-stalking

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, beberapa pengacara di Jepang menyerukan agar Undang-undang anti-stalking di Jepang harus segera di revisi.

Hal ini tidak lepas dari kasus penikaman seorang idola bernama Mayu Tomita oleh salah satu penggemarnya. Mereka mendesak agar para publik figur atau seseorang yang merasa menerima ancaman, bisa cepat mendapatkan perlindungan dari pihak Kepolisian.

Satu hal yang dipermasalahkan dalam kasus ini adalah lambannya respons dari pihak Kepolisian meski Mayu sudah melaporkan adanya ancaman di dunia maya dari seorang stalker atau penguntit yang akhirnya diketahui adalah tersangka.

Meski demikian, pihak Kepolisian tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena ancaman di dunia maya belum termasuk dalam Undang-undang anti-stalker.

Suara dari para pengacara tersebut ternyata didengar oleh pemeritah Jepang yang akhirnya memutuskan untuk mencoba memperkuat aturan hukum bagi para stalker atau penguntit.

Menurut Asahi Shimbun, Partai Demokrat Liberal dan mitra koalisinya Komeito mengumumkan bahwa mereka  akan menyusun sebuah tim yang akan mengamandemen Undang-undang anti-stalking.

Mereka ingin menambahkan untuk kasus “mengirim pesan yang tidak nyaman di media sosial” akan dimasukan ke dalamUundang-undang tersebut.

Komeito juga dipercaya sudah menyusun ringkasan dari proposal dan berencana untuk berkonsultasi dengan partai-partai oposisi lainnya untuk membuat perubahan amandemen tersebut di rapat dewan pada musim gugur mendatang.

Saat ini, Undang-undang pengontrolan stalker menganggap panggilan telepon yang berulang kali dan pengiriman e-mail sebagai perilaku yang obsesif.

Tetapi untuk aturan baru nanti tim akan berencana untuk memperluas hukuman perilaku yang obsesif untuk pesan yang disampaikan ke media sosial seperti ngetweet dan berkomentar negatif atau terkesan mengancam diblog akan diberlakukan hukuman lebih berat lagi.

Selain itu, tim juga berharap kepada Komisi Keselamatan Publik di setiap Prefektur agar cepat bergerak dalam menegakkan keadilan tanpa menunggu peringatan dari polisi terhadap pelaku.

Yoshihisa Inoue sebagai sekretaris jenderal dari Komeito mengungkapkan kepada wartawan jika timnya berharap aturan baru tersebut dapat diperluas dan dikembangkan sesegera mungkin.

Di Jepang sendiri, sudah sering kita dengar jika banyak dari publik figur ataupun artis idola sering kali dibuntuti oleh para penggemarnya yang memiliki rasa obesesi yang berlebihan.

Sumber : tokyoreporter

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment




About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.