Tradisi Perjodohan Omiai Masih Populer Hingga Sekarang di Jepang




Jepang sedang mengalami krisis kelahiran. Salah satu sebabnya adalah rendahnya angka perkawinan di negara tersebut. Kurang lebih 50% wanita Jepang yang berusia 30 tahun belum menikah. Hal ini disebabkan wanita dan pria Jepang di usia produktif kerjanya tidak sempat untuk bergaul dikarenakan memiliki jam kerja yang panjang.

Tetapi ada juga sebagian masyarakat yang walaupun mempunyai jam kerja yang padat ingin segera menikah dan membangun rumah tangga. Salah satunya dengan mengikuti omiai.

Omiai sendiri bisa dikatakan perjodohan yang melibatkan orang tua dari kedua belah pihak. Ada juga yang melakukannya seperti kencan buta, bedanya pada kencan tersebut, satu sama lain saling menceritakan diri masing-masing dan mengharapkan terjadinya persetujuan untuk menikah.

Baca Juga
Pernikahan Tidak Penting Bagi 33% Orang Jepang
Hampir 40% Anak Muda Di Jepang Tidak Ingin Punya Pacar
Jepang Akan Punah Di Tahun 2040!
Kenapa Banyak Perjaka Tua di Jepang?

Di zaman modern ini, ada yang menyediakan jasa perantara untuk omiai. Jasa pertama, orang yang ingin melakukan omiai mengajukan proposal ke perantara. Kemudian perantara tersebut memilih dua pasangan yang cocok menurut latar belakang masing-masing

Pada pertemuan pertama biasanya hanya sekedar basa-basi dengan saling bertukar informasi. Kemudian di akhir pertemuan akan di putuskan akan dilanjutkan atau tidak. Hal ini pun juga harus disetujui oleh orang tua dari kedua belah pihak. Kedua pasangan yang akan di jodohkan bertemu secara langsung di tempat yang kesannya pribadi seperti ruang privat hotel, rumah pihak pria, maupun wanita.

omiai-meeting-japan

Pakaian yang dikenakan pun harus formal dan biasa nya beberapa orang memakai pakaian tradisonal Jepang. Kedua belah pihak melakukan acara makan bersama. Dan, setelah acara pendahuluan itu selesai, biasanya para orang tua akan meninggalkan pasangan tersebut berbincang bincang berdua untuk saling mengenal.

Jasa kedua memilih cara yang lebih simple. Perantara akan menggelar pesta yang diikuti oleh anggota omiai dengan harapan dalam pesta tersebut mereka saling berinteraksi dan bertukar informasi sehingga mendapatkan pasangan yang cocok. Biasanya pada saat omiai, pasangan tidak membicarakan hal seperti mantan kekasih, pandangan politik, masalah pendapatan, dan agama.

japanese-wedding

Setelah dilakukan pertemuan secara berkala, maka pasangan akan memutuskan akan menikah atau tidak. Jika akhirnya memutuskan untuk menikah, maka si perantara akan mendapatkan 10% dari mas kawin sebagai tanda terima kasih dan bisa menjadi pendamping mempelai sebagai pengganti peran orang tua.

Pernikahan yang terjadi dengan menggunakan tradisi omiai ini biasanya bertahan lama karena pasangan menghormati tradisi dan menghargai sebuah perkawinan. Faktanya, tingkat perceraian pasangan yang melakukan omiai sangatlah rendah dan sampai sekarang pun omiai menjadi salah satu tradisi yang paling populer di Jepang.

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



About thedailyjapan 1809 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.