Torii, Gerbang Pembatas Antara Manusia dengan Dewa




Torii menjadi batas antara manusia dengan dewa

Jika kalian sering menonton anime, dorama, ataupun film Jepang, tentu sudah tidak asing dengan gerbang besar di Jepang yang biasanya berwarna merah atau oranye. Gerbang tersebut dikenal dengan nama Torii, yang berfungsi sebagai pembatas antara kawasan tempat tinggal manusia dengan kawasan suci tempat tinggal Kami atau dewa.

Torii biasa ditemukan di jalan menuju kuil Shinto, meski demikian, gerbang ini juga bisa ditemui di di mausoleum kekaisaran dan beberapa kuil Buddha di Jepang. Simbol torii dalam peta terbitan Jepang menandakan lokasi kuil Shinto.

Baca Juga
Mengenali Perbedaan Antara Kuil Shinto dan Kuil Buddha
Kuil Hikawa Ōmiya, Pusat dari Semua Kuil Hikawa di Jepang
Menguak Legenda Fushimi Inari Taisha
Kuil Meiji, Simbol Keabadian Kaisar Meiji di Tengah Jantung Kota Tokyo

Menurut cerita legenda Jepang kuno, Amaterasu-ōmikami (天照大神 or 天照大御神) atau Dewa Matahari sangat marah kepada adik laki-lakinya yang suka mengganggu. Ia kemudian bersembunyi di gua dari batu karang yang disebut Ama no iwato. Jalan masuk gua ditutupinya dengan batu karang yang menyebabkan terjadi gerhana matahari.

Melihat kejadian ini, banyak orang menjadi takut jika matahari tidak akan bersinar lagi. Atas nasihat seorang bijak, semua naganaki tokoyo no tori (ayam jantan) dikumpulkan dan diminta agar berkokok. Sang dewa yang penasaran kenapa ayam berkokok, akhirnya membuka  sedikit batu karang yang menutupi jalan masuk gua.

Pesumo berbadan besar akhirnya mendorong paksa batu karang tersebut hingga gua terbuka dan membuat matahari kembali muncul dan dunia berhasil diselamatkan. Pohon tempat hinggap ayam-ayam jantan yang diletakkan di depan altar konon merupakan bangunan torii yang pertama.

Pada umumnya bangunan torii terdiri dari 2 batang tiang vertikal yang menyangga 2 batang palang sejajar di bagian atas bangunan. Palang bagian atas bisa terdiri 2 buah palang bersusun yang disebut palang kasagi dan palang shimagi, sementara palang bagian bawah disebut nuki. Bila dipasangi papan nama kuil (gakuzuka), maka papan nama tersebut dipasang di antara palang shimaki dan palang nuki.

Dilihat dari bentuknya, torii secara garis besar dibagi menjadi dua bentuk: bentuk shinmei dan bentuk myōjin. Keduanya merupakan bentuk dasar dari berbagai jenis bentuk torii.

Bentuk torii juga kadang berbeda, tergantung selera dari orang yang menyumbangkannya. Seperti halnya yang ada di Fushimi Inari Taisha, yang memiliki lebih dari 10.000 torii. Mereka yang berziarah ke kuil untuk berdoa kemudian merasa doanya dikabulkan, akan menyumbangkan torii sebagai persembahan kepada para dewa dengan menuliskan nama mereka dibagian belakang torii.

Torii yang ada di Fushimi Inara Taisha sekarang ini menjadi daya tarik tersendiri untuk para pelancong yang menjadikan tempat ini sebagai salah satu destinasi wisata paling populer di Kyoto dan telah digunakan dalam berbagai karya fiksi.

Torii juga dipakai untuk menunjukkan kaitan antara kuil Shinto yang sejenis, misalnya torii bentuk Yasukuni terdapat di Kuil Yasukuni dan berbagai Kuil Gokoku yang terdapat di banyak tempat di Jepang, sementara torii bentuk sannō terdapat di Kuil Hie, Kuil Sannō, dan Kuil Hiyoshi.

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



thedailyjapan 2225 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.