Lelah Bekerja, Generasi Muda Jepang Jauhi Hubungan Intim




Generasi muda di Jepang sekarang ini terlalu disibukan dengan pekerjaan

Pertumbuhan ekonomi Jepang yang kian pesat, membuat para penduduknya seakan harus terus berlari dan menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk bekerja. Hal ini ternyata memiliki dampak negatif untuk Jepang sendiri.

Di Negeri Sakura sekarang ini ada satu tren negatif yang sedang berkembang. Media Jepang menyebutnya sebagai sekkusu shinai shokogun atau celibacy syndrome–sindrom bujangan. Mereka menganggap bahwa masyarakat Jepang tak terlalu tertarik dengan seks.

Baca Juga
Hampir 40% Anak Muda di Jepang Tidak Ingin Punya Pacar
Jumlah Anak di Jepang Mencapai Titik Terendah Dalam 35 tahun
Mengapa Wanita Jepang Lebih Suka Menjalin Hubungan Dengan Pria Asing?
Jepang Akan Punah Di Tahun 2040!

Hal ini sendiri sudah berpengaruh ke tingkat populasi Jepang. Jumlah anak-anak di Jepang sekarang ini mencapai titik terendah dalam 35 tahun terakhir.

Mengutip Japan Times, sebuah data terbaru yang dikeluarkan oleh Japan Family Planning Association menjabarkan jika 49,3 persen dari 1.134 responden yang berumur 16 hingga 49 tahun tak melakukan hubungan intim dalam satu bulan terakhir.

Dari data tersebut, 21,3 persen pria dan 17,8 persen wanita yang telah menikah tidak melakukan hubungan intim karena kelelahan akibat bekerja. Sementara itu, 23 persen wanita lainnya mengatakan bahwa hubungan tersebut membosankan dan 17,9 pria mengaku tak berminat.

Jumlah populasi anak-anak di jepang kian menurun setiap tahunnya

Sebelumnya juga sempat diadakan survey kepada generasi muda perihal masalah hubungan romantis. Dari survey tersebut terkuak jika hampir 40% anak muda di Jepang tidak ingin memiliki pacar.

Menanggapi fenomena itu para ahli mengatakan, perkembangan ekonomi secara pesat dan ketidaksetaraan gender yang tinggi menyebabkan penduduk Jepang “lari dari keintiman”. Menurut World Economic Forum, Jepang menempati posisi 104 dari 140 negara dalam kesetaraan gender, di mana posisi tersebut berada di antara Armenia dan Maladewa.

“Perempuan pekerja profesional terjebak di tengah-tengah kontradiksi itu,” tulis Fisher.

Saat seorang wanita dalam mssa kehamilan atau saat baru menikah, mereka diharapkan untuk berhenti bekerja. Hal ini membuat wanita Jepang berada dibawah tekanan sosial yang besar dan mereka mereka tidak memiliki kesempatan untuk memajukan karir mereka. Hal yang juga menjadi pemicu mereka menjauhi hubungan intim.

Bagi wanita Jepang, kehamilan dan memiliki anak bisa menghambat karir mereka di dunia kerja
Bagi wanita Jepang, kehamilan dan memiliki anak bisa menghambat karir mereka di dunia kerja

Di Jepang, terdapat istilah untuk menyebut wanita yang telah menikah dan bekerja di Jepang, yakni oniyome atau istri iblis. Wanita berusia awal 20-an memiliki 25 kemungkinan untuk tak menikah dan 40 persennya kemungkinan tak memiliki anak.

Menurut institut kependudukan Jepang, jumlah penduduk di Negeri Sakura dapat turun hingga ke angka 107 juta pada 2040, atau 20 juta lebih rendah dari saat ini. Pada saat yang sama, populasi di Jepang makin menyusut dan menua. Hal tersebut menjadikannya ‘bom waktu demografis’.

Pemerintah Jepang terus mencoba untuk mencari solusi mengenai permasalahan ini. Mereka meminta 80% pria yang istrinya akan melahirkan agar mengambil cuti untuk menemani istri mereka dan meningkatkan keintiman dalam hubungan keluarga.

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



thedailyjapan 2225 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.