Taman Kanak-Kanak di Osaka Berpotensi Jatuhkan Karir Abe Shinzo




Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe

Sebuah Taman Kanak-Kanak yang berlokasi di Osaka mengundang kontroversi politik. Terdapat indikasi bahwa sistem pengajarannya berbasiskan edukasi periode sebelum perang. Sistem yang mungkin hanya dikenali oleh para buyut dari para siswa tersebut.

TK tersebut memperdengarkan musik-musik militer dan memberikan instruksi untuk menanamkan perilaku patriotik layaknya terhadap Kaisar di abad ke-19.

“Kami hanya bermaksud menanamkan patriotisme dan rasa bangga dalam diri anak-anak Jepang sebagai bangsa yang paling murni di dunia,” ungkap pihak perwakilan sekolah.

TK Tsukamoto dan pendukungnya – termasuk istri dari Perdana Menteri Abe Shinzo – saat ini dihujani kritik. TK tersebut dituduh mempromosikan cara berpikir bigot terhadap bangsa Tiongkok dan Korea dan menutupi kegiatan finansial gelap dari pemerintahan.

Kritik tersebut sontak memojokkan pemerintahan konservatif dari Perdana Menteri Abe Shinzo dan mengundang perhatian masyarakat akan sisi gelap dari meningkatnya pengaruh golongan kanan dalam sistem pendidikan di Jepang.

PM Abe mengatakan pada anggota parlemen bahwa istrinya, Abe Akie, telah berhenti sebagai “dewan kehormatan” dari sekolah dasar yang tengah dibangun oleh pemilik Tsukamoto.

Sekolah tersebut didirikan oleh sebuah yayasan swasta yang membeli tanah dari pemerintahan dengan diskon besar. Hal tersebut mengundang perhatian banyak orang pada awal bulan Februari ini dan akan diadakan investigasi lebih lanjut.

“Istri saya dan saya tidak terlibat dalam proses lisensi sekolah atau kepemilikan tanah sekolah tersebut. Jika terbukti kami terlibat, saya akan mengundurkan diri sebagai politisi,” ungkap PM Abe.

PM Abe dan politisi konservatif lainnya kerap mengkritik sistem edukasi saat ini yang cenderung liberal dan melihatnya sebagai wadah untuk para guru bergolongan kiri menyebarkan naratif masokis mengenai kesalahan perang Jepang dan mempromosikan individualism dan pasifisme, bukan mengokohkan nilai-nilai tradisional.

“Ini merupakan penolakan terhadap sistem edukasi pasca perang yang prinsip dasarnya adalah pasifisme dan demokrasi,” ungkap Profesor Sato Manabu dari Universitas Gakushuin Tokyo.

Para orang tua murid pun menyatakan komplain terhadap sekolah tersebut. Salah satu orang tua murid menyatakan bahwa Kepala Sekolah nya bahkan menuduh orang tua murid yang berniat menantang sekolah dengan tuduhan bahwa para leluhur dari orang tua murid tersebut adalah bangsa Tiongkok atau Korea.

PM Abe terkenal dengan niatnya untuk mengembalikan kembali sistem edukasi di Jepang pada nilai-nilai tradisional. PM Abe mendukung untuk mengubah konten dari buku sejarah dengan memperhalus penggambaran atas perlakuan kejam yang dilakukan oleh Jepang pada masa lampau ke bangsa lainnya.

Ia juga meloloskan undang-undang untuk membuat “pendidikan moral” – termasuki mempromosikan patriotism – sebagai standard utama dari kurikulum pendidikan sekolah negeri.

Tsukamoto telah mengambil pendekatan patriotik dalam sistem pendidikannya. Sekolah ini pertama kali mengundang kontroversi beberapa tahun lalu ketika terungkap bahwa mereka membuat para siswanya mengulang Revisi Hukum Kekaisaran pada bidang Pendidikan, sebuah dekrit yang dikeluarkan pada tahun 1980 dan menjadi dasar dari kurikulum militaristik sekolah pada periode sebelum perang.

Transkrip tersebut mendorong para siswa untuk mencintai keluarganya, melakukan kebajikan untuk semua, dan mengejar pendidikan serta mengolah kreativitas dalam bidang seni. Namun di sisi lain, transkrip tersebut juga menanamkan nilai seperti, “kebaikan dan kesetiaan” terhadap kekaisaran dan menawakrna diri untuk melindungi negara dengan berani ketika mendapatkan panggilan.

Kepala Sekolah Kagoike merupakan direksi dari kelompok Nippon Kaigi cabang Osaka, sebuah kelompok golongan kanan yang di dalamnya termasuk PM Abe dan sejumlah politisi konservatif lainnya.

Sumber: The Strait Times

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



thedailyjapan 2217 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.