Sumo, Dari Ritual Keagamaan Shinto Hingga Jadi Hiburan Kelas Atas




Sumo menjadi olahraga hiburan kelas atas di Jepang dengan harga tiket pertandingan yang mahal

Apa yang Anda bayangkan jika melihat dua pria berbobot lebih sedang bergulat sambil bertelanjang dada, naik ke atas ring panggung sambil di tonton banyak orang? Selanjutnya mereka akan saling menjatuhkan satu sama lain hingga tersisa satu orang saja. Lucu? Mungkin kita akan menganggapnya sebagai sebuah lawakan slapstick jika melihatnya di Indonesia, tapi akan jadi perkara lain jika dilakukan di Jepang.

Sumo sudah muncul di Jepang sejak zaman Nara (710 – 794) dan Heian (794 – 1192). Saat pertama kali muncul, Sumo merupakan sebuah ritual keagaman yang digunakan untuk memberkati dan sebagai serana media untuk mengusir arwah dan roh yang jahat.

Baca Juga
Menjumpai Para Geisha di Kyoto
Patung Buddha Kamakura Adalah Simbol Religius dan Perjuangan
Ronin, Kisah Samurai Tak Bertuan
Sejarah, Sesuatu yang Tidak Menarik di Jepang

Secara perlahan-lahan terjadi pergeseran fungsi, sumo yang mempertontonkan dua orang yang saling beradu fisik membuat orang bersemangat serta memompa adreanalin bagi yang melihatnya. Olahraga ini akhirnya dijadikan sebuah hiburan kelas atas dengan harga tiket yang sangat mahal untuk menonton pertandingan.

Pada era samurai, menjadi kuat secara fisik adalah keharusan bagi seorang kesatria, untuk itulah disetiap keluarga samurai selalu ada beberapa orang yang mampu bergulat. Dari seluruh kebarbaran yang dipertujukkan oleh sumo ternyata terdapat sisi spiritualitas yang kental dalam setiap perhelatannya. Prosesi sebagai seorang pesumo selalu diidentikan dengan ritual keagamaan Shinto yang sangat sakral.

Sejak kemunculannya, sumo
Sejak kemunculannya, sumo sudah identik sebagai ritual keagamaan Shinto

Mungkin bisa jadi sumo merupakan satu-satunya cabang olahraga yang menggunakan pendeta (asli) sebagai wasit pertandingannya. Disamping itu terdapat berbagai makna dan simbolisasi di dalamnya. Pesumo yang bertarung diibaratkan bagai seorang manusia yang akan berkomunikasi dengan Kami atau dewa. Masuk kedalam sebuah kuil atau tempat keramat yang di simbolkan dengan sebuah lingkaran ring arena sumo.

Selanjutnya kedua petarung akan melakukan ritual-ritual lain, seperti melemparkan garam ke dalam arena sebagai penyucian dan menepukkan tangannya berulang kali sebagai penanda untuk sang kami atas keberadaan mereka disamping mengusir roh jahat yang ada disekelilingnya.

Para pesumo sedang menyantap chankonabe
Para pesumo sedang menyantap chankonabe

Hidup menjadi seorang pesumo profesional berarti harus mau untuk menjalani hidupnya berbeda dari orang lain. Nasehat orang tua, “jangan tidur setelah makan” menjadi sebuah pantangan bagi mereka. Setelah menyantap makanan khusus yang biasa disebut Chankonabe yakni sup yang di dalamnya berisi berbagai jenis protein dan sayuran yang disatukan oleh sebuah kaldu, mereka harus tidur untuk tetap menjaga tubuhnya tetap berisi dan memiliki berat yang sesuai.

Seperti halnya tinju, sumo juga memiliki kelas-kelasnya sendiri. Dalam tingkatannya yang paling atas, atau biasa disebut Yokozuna, memiliki rata-rata penghasilan hingga 3 juta yen atau setara dengan 390 juta rupiah perbulannya. Bahkan nominal tersebut belum termasuk saat mendapatkan hadiah jika menjuarai suatu turnamen tertentu.

suuu

Ironisnya, beberapa tahun terakhir ini olahraga tradisional ini kian mendapatkan sorotan negatif dari masyarakatnya. Tingkat popularitas sumo menurun drastis seiring dengan jumlah penonton televisi untuk festival tahunan sumo yang terus berkurang.

Dalam artikelnya, DW menyimpulkan beberapa alasan kenapa penurunan popularitas ini terjadi. Banyak halnya dikarenakan skandal yang dilakukan oleh atletnya sendiri, seperti perjudian sampai dengan tindak kekerasan yang melibatkan pihak kepolisian.

Yang jelas, apapun yang terjadi, bagi masyarakat Jepang, sumo lebih dari sekedar olaharaga semata.

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.