Setelah Gempa dan Tsunami 2011, Fukushima Menjadi ‘Kota Hantu’




Keadaan kota Fukushima setelah gempa dan tsunami 2011

Shinichi Niitsuma antusias menunjukkan pengunjung daya tarik kota kecil Namie. Kota garis pantai yang dilanda tsunami tersebut tampak seperti kota hantu setelah rumah-rumah ditinggalkan.

Lima tahun setelah bencana nuklir mengosongkan banyak pantai timur laut Jepang, pariwisata memerikan penduduk kota setempat kesempatan untuk mengusir kengerian masa lalu.

Seperti kamp konsentrasi Nazi di Polandia ata Ground Zero di New York, daerah hancur akibat bencana Fukushima kini telah menjadi titik ‘pariwisata gelap’. Setiap tahunnya, lebih dari dua ribu pengunjung tertarik berkunjung setelah bencana nuklir terburuk dalam seperampat abad.

“Tidak ada tempat seperti Fukushima, kecuali mungkin Chernobyl untuk melihat betapa mengerikan bencana nuklir,” katanya mengacu pada bencana nuklir di Ukraina 1986.

Pada 11 Maret 2011, gempa berkekuatan sembilan SR di lepas pantai timur laut Jepang memicu tsunami besar dan melanda daratan. Sebanyak 19 ribu orang tewas atau hilang akibat bencana tersebut.

Warga Namie dievakuasi setelah tsunami membuat pabrik nuklir ke krisis dan belum diizinkan untuk beroperasi kembali lantaran kekhawatiran radiasi.

Niitsuma (70 tahun) adalah salah satu dari 10 relawan pemandu lokal yag mengorganisir perjalanan ke tempat wisata di Namie. Termasuk daerah yang dibatasi secara ketat.

“Saya ingin pengunjung melihat kota hantu ini, yang bukan hanya warisan belaka tapi menyajikan putus asa,” tambahnya sambil berjalan menyusuri jalan utama Namie yang terletak delapan kilometer dari pabrik nuklir.

Para relawan membawa pengunjung ke berbagai bangunan dan meminta untuk tidak menyentuhnya karena adanya radiasi. Tingkat radiasi yang sangat tinggi menghambat kerja pembongkaran.

Mereka berhenti disebuah sekolah dasar yang terkena tsunami. Jarum jam di dinding kelas tidak lagi bergerak dan menunjukkan angka 03.38, saat gelombang pembunuh sebenarnya menyapu daratan.

Di gedung olahraga, spanduk untuk kelulusan 2011 masih menggantung di atas pangung dan pabrik nuklir yang lumpuh terlihat melalui jendela yang hancur.

Seorang peserta tur Chika Kanezawa mengaku terkejut dengan kondisi yang dilihatnya. Ia menuturkan, laporan televisi dan surat kabar menyatakan rekonstruksi membuat kemajuan dan kehidupan kembali normal.

“Namun pada kenyataannya, tidak ada yang berubah di sini,” ujar dia.

Peternak sapi perah Masami Yoshizowa masih menyimpan sekitar 30 sapi di Namie. Mereka hidup dari rumput yang terkontaminasi radiasi. Ia melanggar perintah pementah untuk menghabisi ternaknya.

Ia pun menjelaksan kepada kawanan wisatawan, tindakannya membiarkan ternak hidup adalah sebagai protes kepada operator pabrik Tokyo Electric Power dan pemerintah.

“Saya ingin memberitahu orang-orang di seluruh dunia, apa yang terjadi padaku mungkin terjadi besok,” katanya.

Bencana memaksa semua reaktor nuklir Jepang berhenti selama dua tahun dalam menghadapi kekhawatiran publik atas keamanan dan paparan radiasi. Namun pemerinah mendorong reaktor diaktifkan kembali. Pemerintah mangklaim negara miskin membutuhkan tenaga nuklir.

Guru bahasa Inggris Tom Bridges yang tinggal di Saitama mengatakan, ia mampu berbagi kemarahan dan frustasi korban melalui tur tersebut.

“Ini bukan perjalanan menyenangkan tapi itu perjalanan yang diperlukan,” katanya.

Beberapa warga setempat masih diliputi kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai dan tak ada harapan untuk kembal. Mereka merasaka perasaan yang campur aduk saat melihat pelancong melewati kampung halaman mereka.

Niitsuma yang berasal dari Soma, sebuah kota pantai sekitar 35 kilometer utara dari pabrik Fukushima mengaku merasa dihantui penyesalan. Sebab, ia tidak pernah aktif dalam gerakan ant-nuklir sebelum bencana terjadi, meski ia menentang pembangunan reaktor.

“Seharusnya saya bertindak sedikit lebih serius. Saya bekerja sebagai pemandu untuk menebus (penyesalan),” katanya.

Dikutip dari Republika

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment




About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.