Seluk-Beluk Populernya Arubaito di Kalangan Mahasiswa Jepang




Kehidupan perkuliahan mahasiswa di Jepang tidak jauh dari sebuah istilah, yakni “Arubaito” atau kerja paruh waktu. Pekerjaan ini nampaknya tidak hanya menjadi incaran bagi para warga negara asing yang berkuliah di Jepang, namun juga bagi para mahasiswa lokal.

Mengapa kerja paruh waktu menjadi sebuah kultur populer diantara kalangan mahasiswa Jepang? Apa yang mendorong untuk mengambil kerja paruh waktu disela kehidupan kampus yang padat?

Ternyata Arubaito bukan hanya menjadi ajang mencari uang, namun menjadi tradisi yang penuh pembelajaran bagi para generasi muda di Jepang.

Untuk mengetahu lebih dalam tentang tradisi tersebut, The Daily Japan melakukan wawancara ekslusif dengan mahasiswa tingkat akhir Universitas Kansai, Tsutsui Miho. Simak hasil wawancara kami!

TDJ: Apa yang kamu lakukan untuk kerja paruh waktu saat ini?

TM: Saat ini saya tengah bekerja di sebuah café dan lokasinya hanya 5 menit dari rumah. Saya bertugas sebagai pelayan dan juga juru masak. Tetapi terkadang saya juga menjual produk kopi tertentu di dekat stasiun, tepatnya lokasi yang kerap dilalui oleh para penumpang.

TDJ: Sudah berapa lama anda bekerja disana?

TM: Cukup lama, sekitar tiga tahun.

TDJ: Apa pekerjaan yang paling popular untuk kerja paruh waktu diantara kalangan mahasiswa?

TM: Kebanyakan teman saya bekerja di tempat penyajian makanan dan minuman, seperti restoran, café, dan izakaya (bar khas Jepang).

TDJ: Kenapa anda memutuskan untuk mengambil kerja paruh waktu?

TM: Sepertinya alasannya cukup sederhana karena kebanyakan sudah menjadi kondisi alamiah ketika seorang mahasiswa mengambil arubaito. Bahkan orang tua saya pun mengambil arubaito ketika mereka sedang bersekolah.

Mayoritas masyarakat Jepang memulai arubaito ketika mereka menjadi mahasiswa tahun pertama. Mereka membutuhkan uang untuk membayar biaya kuliah dan pastinya juga bermain dengan teman.

Sementara itu banyak toko yang membutuhkan mahasiswa untuk dipekerjakan sebagai pegawai paruh waktu. Membayar pegawai paruh waktu merupakan keuntungan bagi perusahan karena relatif lebih murah.

Berdasarkan pengalaman saya, untuk masa studi 4 tahun perkuliahan saya membutuhkan biaya sekitar 4 juta yen atau sekitar 480 juta rupiah. Sementara itu, saya meminjam sekitar 2,5 juta yen atau sekitar 300 juta rupiah untuk menutupi separuh biaya kuliah. Saya wajib membayarkannya kembali kepada pemerintah Jepang hingga batas umur 35 tahun sehingga saya butuh uang yang banyak untuk mengembalikannya.

Tapi dibalik semua alasan tersebut, saya memiliki keinginan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan berbagai kalangan umur. Oleh karena itu saya memilih bekerja di Café.

TDJ: Berapa perkisaran gaji kerja paruh waktu?

TM: Untuk satu jam, kami dibayar sekitar 860 yen atau 103 ribu rupiah. Pekerja paruh waktu harus membayar pajak jika gajinya mencapai lebih dari 1.030.000 Yen atau 123 juta rupiah per tahun. Oleh karena itu kebanyakan orang hanya mendapatkan 1.030.000 Yen. Namun pendapatan tersebut masih kurang dari pendapatan pekerja penuh.

Hingga Agustus tahun ini saya telah berhasil mendapatkan 1 juta Yen, namun saya terbilang bekerja melampaui mahasiswa lainnya. Haha.

TDJ: Apa yang anda lakukan dengan gaji yang didapatkan dari arubaito?

TM: Saya lebih banyak menabung uang tersebut, namun terkadang saya menyisihkan beberapa untuk berbelanja, pergi dengan teman, makan, dan membeli buku.

TDJ: Bagaimana mengatur waktu antara kuliah dengan arubaito?

TM: Saya berangkat arubaito setelah selesai kuliah sehingga saya dapat membagi waktunya dengan baik. Sebelum ujian, biasanya saya mengambil cuti dari arubaito. Dengan demikian saya dapat belajar tanpa terganggu.

Ketika memasuki musim liburan, saya relatif memiliki waktu senggang sehingga saya dapat mengambil arubaito.

Selain itu saat ini saya sudah jarang ke kampus karena sudah memasuki tahun keempat. Mahasiwa tahun keempat hanya pergi ke kampus sekali dalam seminggu. Oleh karena itu saya memiliki banyak waktu untuk arubaito.

Saya mengambil arubaito bukan semata-mata karena membutuhkan uang, tetapi saya juga ingin banyak berinteraksi dengan orang lain dan meningkatkan kemampuan berbicara. Disamping itu saya juga dapat meningkatkan kemampuan memasak.

Saya pun cukup beruntung pula karena terhitung mulai tahun depan saya akan bekerja sebagai pekerja penuh di café saat ini. Arubaito yang saya lakukan pun tidak percuma.

Saya rasa arubaito menjadi kesempatan yang sangat berharga karena mengajarkan tradisi yang sudah mengakar di Jepang. Tradisi untuk bekerja demi kehidupan pribadi dan juga masyarakat sekitar. Arubaito menjadi pengalaman berharga untuk mengajarkan kepada para mahasiswa bagaimana berkontribusi bagi perekonomian dan juga masa depan bangsa.

Reporter: Gayuh Tyagita dan Chaula Rininta

Foto: Google

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



thedailyjapan 2225 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.