Sejarah Kyoto dan Pembangunannya di Era Modern




Pemerintah kota Kyoto berhasil menjadikan mantan ibukota Jepang itu sebagai kota terbaik di dunia

Kurang lebih ada tujuh belas situs yang diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO di Kyoto sekaligus menjadi bukti nyata betapa berharganya kota ini sebagai daerah untuk melestarikan kekayaan budaya dan sejarah Jepang. Kota ini juga pernah menjadi ibukota Jepang selama lebih dari satu milenium hingga tahun 1868.

Seberapa banyak kalian mengenal kota 1,000 kuil ini? Atau baru mendengar setelah film Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno?

Sejarah Kyoto

Sejarah panjang kota ini di mulai ketika pada tahun 794 SM,  Kaisar Kammu (kaisar Jepang ke-50) memindahkan ibu kota dari Nagaoka-kyō. Ibu kota istana (tojō) bernama Heian-kyō ditetapkan sebagai ibu kota pada tahun 794 Pada masa itu, ibu kota disebut kyō no miyako yang selanjutnya berubah menjadi Kyoto.

Kyoto mampu membangun kota tanpa menghilangkan keindahan dan sisi tradisional

Pada pertengahan abad ke-10, atau sekitar 200 tahun setelah berdiri, Heian-kyō sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Ukyo yang sebelumnya banyak ditinggali pengrajin dan pedagang menjadi tempat dengan populasi rendah yang sebagian besar tanahnya dijadikan lahan pertanian.

Penduduk mulai memadati Sakyo, dan perkembangan Heian-kyō menjadi terpusat ke arah timur Sungai Kamo dan utara. Heian-kyō mulai kehilangan keseimbangan. Namun perang besar Onin dan Bunmei yang berlangsung selama sebelas tahun di penghujung abad ke-15, menjadi titik awal kehancuran kejayaan Kyoto. Seperempat abad dihabiskan untuk membangun kembali, namun kota ini tidak pernah kembali menjadi seperti semula.

Baca Juga
Kunjungilah Kyoto, Kota Terbaik di Dunia!
Taman Nasional Kyoto-Gyoen: Taman Yang Penuh Nilai Sejarah
Menikmati Nyanyian Merdu dari Batang Bambu di Hutan Sagano
Menguak Legenda Fushimi Inari Taisha

Kyoto tidak lagi menjadi pusat segala hal. Terdapat sawah dan kebun yang terhampar sejauh 2 kilometer diantara Kamigyo dan Shimogyo dan membuat kota ini terlihat seolah-olah terbagi menjadi dua.

Kyoto terbengkalai sekitar satu abad lamanya hingga Toyotomi Hideyoshi (pemimpin Jepang mulai dari zaman Sengoku sampai zaman Azuchi Momoyama) memerintahkan untuk membangun kembali Kyoto hingga selesai.

Ia mengisi ruang diantara Kamigyo dan Shimogyo untuk meningkatkan urbanisasi. Kota ini pun seperti hidup kembali. Untuk pertama kalinya Kyoto dikelilingi benteng tanah. Gosho (Istana Kekaisaran) dibangun kembali di tengah kota, dan Istana Juraku-dai yang baru dibangun itu bersinar dalam balutan emas.

Toyotomi Hideyoshi yang berjasa membangun kembali Kyoto

Di masa pemerintahan Tokugawa, kota ini akhirnya memperoleh kembali kebanggaannya yang hilang. Pembangunannya dalam bidang industri terus meningkat. Pada akhir abad ke-17, Nishijin menjadi salah satu distrik tekstil paling terkenal di dunia.

Sayangnya pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19, Kyoto menghadapi tiga bencana besar: kebakaran Hoei (1704-1710), Tenmei (1781-1788), dan Genji (1864). Untungnya kali ini Kyoto tidak seluruhnya hancur dan berhasil dibangun kembali.

Namun karena adanya pergerakan politik yang bermuara pada Restorasi Meiji, pembangunan kembali setelah kebakaran Genji berlangsung hingga bertahun-tahun.

Setelah itu, Kyoto kehilangan haknya sebagai ibukota yang digantikan oleh Edo (Tokyo) meski pada awal pemerintahan Meiji (1868), kembali memperoleh kembali statusnya sebagai ibukota. Namun karena situasi politik Jepang akhirnya ibukota kembali lagi dipindah ke Tokyo.

Kyoto di era modern

Metode aturan ketinggian gedung di Kyoto

Kota ini adalah salah satu kota yang masuk radar Amerika Serikat untuk menjatuhkan bom atom di Jepang namun akhirnya sasaran dipindahkan ke Nagasaki dan selamat lah Kyoto dari kehancuran berikutnya.

Untuk mendukung Kyoto sebagai kota pusaka, pemerintah kota telah menyiapkan dan menjalankan sejumlah program. Sederetan program ini dimulai pada tahun 2005, yaitu mulai dirancangnya rencana landscape kota yang kemudian disempurnakan pada tahun 2007.

Metode aturan ketinggian gedung

Pemerintah juga menerapkan aturan mengenai pembangunan.Salah satunya adalah aturan mengenai tinggi bangunan. Hal ini dilakukan untuk menunjang program yang dijalankan tetapi juga disesuaikan dengan keadaan alam.

Misalnya batas ketinggian untuk daerah yang berada lebih dekat dengan pegunungan diberi batasan tinggi sampai 10m, daerah perkotaan sampai 15m, dan daerah komersil sampai 31m. Selain itu terdapat juga pengecualian untuk bangunan yang dinilai memiliki peran tertentu dalam membentuk landscape kota.

Selain itu ada juga peraturan mengenai mengenai izin penggunaan atap miring. Seperti yang dapat dilihat dari gambar dibawah ini




  • Mutia Nadyah Kurniati

    ada baiknya penulis menjelaskan ada itu Ukyo dan Sakyo dalam artikelnya, biar yang baca nggak bingung