Periode Kelabu, Jepang Diterjang Banjir Terparah Dalam 3 Dekade Terakhir




Awal bulan Juli 2018 menjadi salah satu hari periode paling kelabu dalam sejarah Jepang. Topan Prapiroon mendatangkan hujan lebat dan angin ke barat daya Jepang. Selama beberapa hari berikutnya, aliran selatan dari topan menimbulkan peningkatan kelembaban yang kemudian berinteraksi dengan front stasioner musiman.

Banjir mematikan dimulai pada 5 Juli, terutama di region Kansai yang diguncang oleh gempa mematikan tiga minggu sebelumnya. Hujan lebat kemudian menyebar ke petak-petak besar negara itu, meluas jauh ke barat hingga Prefektur Okinawa.

Beberapa wilayah mengalami rekor curah hujan satu jam dan tiga hari terbesar mereka. Beberapa wilayah terkena lebih dari 1.000 mm (39 in) curah hujan, mendorong Badan Meteorologi Jepang (JMA) untuk mengeluarkan peringatan hujan lebat darurat untuk delapan prefektur: Okayama, Hiroshima, Tottori, Fukuoka, Saga, Nagasaki, Hyogo, dan Kyoto. Ini merupakan peringatan terbesar yang dikeluarkan sejak implementasinya. Seorang pejabat di JMA menggambarkan peristiwa ini sebagai “hujan lebat pada tingkat yang belum pernah kami alami”.

Hujan deras memicu tanah longsor dan banjir bandang, dengan ketinggian air mencapai 5 m (16 ft) di wilayah yang terkena paling parah. Motoyama, Kōchi, terjadi 584 mm (23,0 in) hujan antara 6 dan 7 Juli. Satu kota di Kōchi mencatat curah hujan 263 mm (10,4 in) dalam dua jam. Gunung Ontake mengalami rekor curah hujan tiga hari terbesarnya pada 6.555 mm (258,1 in).

Bencana ini adalah bencana paling besar akibat curah hujan yang sangat tinggi dalam tiga dekade terakhir. Korban terus bertambah akibat tanah longsor dan banjir besar yang dipicu hujan terus-menerus di bagian barat Jepang. Sampai hari ini setidaknya 129 orang dinyatakan tewas, sebagaimana dibenarkan otoritas setempat.

Sebanyak 70.000 orang yang terdiri dari petugas tanggap darurat, polisi, dan personel militer telah dikerahkan ke daerah-daerah yang diterjang banjir serta longsor, terutama di Prefektur Hiroshima dan Okayama.

Selain mencari para korban yang terperangkap, mereka turut membantu evakuasi nyaris sebanyak dua juta orang dari rumah masing-masing.  Korban meninggal dunia maupun cedera diperkirakan akan bertambah selagi hujan deras bakal terus mengguyur sebagian daerah Jepang. Seorang pejabat Badan Meteorologi Jepang mengatakan, “Situasinya masuk pada tahap bahaya ekstrem.”

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



About thedailyjapan 1806 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.