Pengalaman Berkunjung ke Jepang: “Tidak Akan Pernah Puas!”




Dengan segala daya tariknya, berkunjung ke Jepang tak akan memberi rasa puas

3.5 tahun lamanya Indonesia dijajah oleh Jepang. Berkedok ingin membebaskan dari belenggu penjajahan Belanda, Jepang yang mengukuhkan diri sebagai pemimpin Asia ternyata mempunyai niat yang sama dengan Belanda, namun dengan cara yang berbeda.

Meski secara sejarah menyisakan luka, penjajahan Jepang meski durasi waktunya terbilang singkat sedikit banyak membuat orang Indonesia terikat dengan Negeri Sakura. Beberapa dekade berselang, tanpa melupakan sejarah, banyak orang Indonesia yang sangat tertarik dengan Jepang dengan berbagai alasannya.

Mulai dari mempelajari kultur dan bahasa Jepang, menyukai band atau musisi Jepang, membaca manga Jepang, menonton anime, dorama atau film Jepang, hingga yang sekarang sangat populer di Indonesia dimana banyak anak muda di Tanah Air yang mengidolakan grup Idol dari Jepang, terutama AKB48. Berbagai macam alasan itu memiliki tujuan yang sama: suatu saat harus berkunjung ke Jepang.

Hingga pertengahan tahun 2000’an, Jepang seperti sulit dijangkau. Biaya akomodasi yang mahal, biaya hidup yang jauh lebih tinggi serta kesulitan dalam melengkapi persyaratan mendapatkan visa membuat tidak semua orang yang menyukai Jepang bisa mewujudkan mimpinya. Beberapa tahun terakhir, seiring dengan program dinas pariwisata Jepang yang ingin menarik turis asing sebanyak-banyaknya untuk berkunjung ke negara mereka, Jepang semakin dekat dengan jangkauan.

Baca Juga
Tips Mendapatkan Visa ke Jepang
Kosakata yang Harus Diketahui Saat Pertama Kali Ke Jepang
Panduan Menginap di Warnet Jepang
Mengapa Wanita Jepang Lebih Suka Menjalin Hubungan Dengan Pria Asing?

Sekarang ini semakin banyak maskapai penerbangan yang menyediakan tiket promo ke Jepang, ditambah dengan kebijakan Kedutaan Jepang untuk mempermudah mendapatkan visa, bahkan bisa mendapatkan visa gratis dengan e-passport, orang Indonesia yang melancong ke Jepang semakin bertambah setiap harinya.

Sebagai orang yang menghabiskan masa kecil dengan membaca manga dan menonton anime Jepang di tv nasional, saya pun sama seperti kalian, memimpikan untuk bisa pergi ke Jepang. Ditambah sejak duduk di bangku sekolah saya mulai mencintai musik dan sepakbola Jepang, terima kasih untuk Indosiar yang sempat menyiarkan J.League.

Saat masih sekolah atau kuliah, tidak mungkin saya berkunjung ke Jepang karena keterbatasan biaya. Kesempatan itu datang saat bekerja saat mendapatkan tugas untuk melakukan research tentang dunia fashion di Jepang. Setelah mengurus tiket pesawat dan visa, hal pertama yang saya lakukan justru tidak berhubungan dengan kerjaan yang harus saya lakukan, melainkan mengecek jadwal tim sepakbola favorit saya (Nagoya Grampus) bertanding dan jadwal konser/tur band Jepang favorit.

Suasana sore hari di jembatan Azuma-bashi, Asakusa
Suasana sore hari di jembatan Azuma-bashi, Asakusa

Beruntung saya mempunyai banyak teman di Tokyo yang membantu mengirimkan juminho untuk pembuatan visa dan memberikan penginapan secara cuma-cuma. Sesampainya di Jepang, tentu pekerjaan yang harus dilakukan menjadi prioritas. Setelah semuanya beres, saya memiliki waktu lumayan banyak untuk berkeliling, memang hanya di wilayah Kanto saja karena tidak membeli JR Pass.

Saya menginap di daerah Kawasaki, dan selalu mengambil kereta sekitar jam 8 pagi menuju Tokyo karena berbarengan dengan anak-anak sekolah Jepang menggunakan kereta. Siapa yang tidak suka melihat pemadangan anak sekolah Jepang cantik dan lucu mengenakan rok pendek? Mata berat akibat masih didera rasa kantuk seketika menjadi segar.

Patung pemain legendaris Kashima Antlers asal Brazil, Zico di depan Kashima Stadium
Patung pemain legendaris Kashima Antlers asal Brazil, Zico di depan Kashima Stadium

Menikmati senja di Asakusa, menikmati malam di Shibuya dan Shinjuku sudah dilakukan hingga tiba saatnya menonton pertandingan Nagoya Grampus yang bertandang ke Kashima Antlers. Jarak dua jam dengan bus saya tempuh untuk mencoret salah satu keinginan dari wishlist. Mengunjungi Tokyo SkyTree, Tokyo Tower, hingga Kuil Meiji pun sudah terpenuhi.

Dua pekan saya habiskan dikunjungan pertama kali ke Jepang. Puas? Tentu tidak. Rasa sedih menghinggapi saya di Bandara Haneda saat hendak pulang ke Indonesia. Suasana Tokyo yang sangat teratur meski ramainya tidak kalah dari Jakarta sedikit banyak membuat rasa betah dan tidak ingin pulang. Selain itu, selama berada di Jepang saya pun mengetahui lebih banyak tentang Negeri Sakura tersebut.

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.