Pemilu di Jepang, Ditulis dengan Pensil, Bukan Dicoblos




Jepang akan memasuki pemilu

Jepang sedang memasuki masa kampanye, yang nanti akan ditutup dengan pemilu pada tanggal 10 Juli mendatang. Warga negara yang sudah berusia 18 tahun, berhak untuk menyalurkan suara. Jika di Indonesia dicoblos, di Jepang dituliskan dengan pensil.

Ketika datang ke tempat pemilihan, masyarakat akan menuliskan nama calon yang dipilihnya. Jika terjadi kesalahan penulisan, juga disediakan penghapus. Mereka cukup menuliskan nama pilihannya saja, kemudian dimasukan ke kotak suara.

Pemerintah Jepang menganggap semua rakyatnya sama dengan mendapat pendidikan setingkat. Mereka bisa menulis serta membaca dengan baik, sehingga cukup memberikan kertas pemilu kosong lalu menuliskan nama yang didukungnya.

Sedangkan di banyak negara dibuat model contreng tanda saja, karena dianggap tidak sedikit yang tak bisa menulis, walaupun mungkin bisa membaca. Sehingga untuk memudahkan pakai model contreng demikian.

Hal kedua yang lebih menarik adalah cara penulisan yang berbeda, tetapi bisa disahkan, diperbolehkan oleh panitia pemilu. Yang paling penting hanya menuliskan nama calon yang didukung saja, tak boleh menambahkan hal lain.

 

Misalnya nama calon yang dipilih adalahTakigami Akira. Jika ada yang salah menuliskan namanya tetapi masih ada kemiripan seperti “Takagami Akira” atau tertulis menjadi “Tagikami Akira” atau menjadi “Tategami Akira”, atau menjadi “Tatagami Akira” atau tertulis menjadi “Ikegami Akira” semua itu disahkan, diperbolehkan dan diakui satu suara, surat suara tidak hangus.

Mengapa? Karena dianggap mungkin penulisnya lupa sedikit nama calonnya. Sedangkan nama calon yang menggunakan nama itu hanya ada satu orang saja.

Lalu berapa biaya per calon legislatif yang dikeluarkan negara, memakai uang pajak rakyat Jepang saat ini?

Satu orang calon didanai dengan uang pajak rakyat sebanyak 400 juta yen untuk berbagai keperluan kampanye seperti cetak poster, penjelasan mengenai sang calon (profilnya harus diungkap) dan sebagainya. Jadi, jika penduduk Jepang tidak datang ke tempat pemilu, sama saja mereka membuang uang pajaknya sendiri

Sementara pengalaman di masa lalu, jumlah penduduk Jepang yang punya hak suara datang ke tempat pemilu tidak lebih dari 50%, umumnya sekitar 40% saja.

Sumber: Tribunnews

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.