Para Penyelam Ama di Prefektur Mie Masih Menjaga dan Melestarikan Profesi Tradisional Untuk Kaum Wanita di Jepang




Para penyelam Ama di Prefektur Mie

Jika kalian sudah pernah menyaksikan serial drama Amachan, pasti tidak asing lagi dengan sosok Ama, atau penyelam wanita. Aki, sang karakter utama di dalam cerita tersebut adalah keturunan dari keluarga Ama.

Ama (海女, “wanita penyelam”) adalah profesi tradisional untuk para wanita di Jepang yang dipercaya sudah ada sejak abad ke-7. Pekerjaan mereka mencari rumput laut dan kerang. Sekarang ini Ama tidak sebanya dulu, dan hanya berada di beberapa daerah tertentu seperti Mie, Iwate dan Ishikawa.

Kota Toba dan Shima di Prefektur Mie masih sangat melestarikan profesi Ama. Saat ini tercatat masih ada 1,000 perempuan yang menjadi Ama disana, angka tersebut diperkirakan mewakili setengah jumlah Ama yang ada di Jepang sekarang ini. Prefektur Mie dikenal juga sebagai tempat berkembangnya budaya Ama.

Baca Juga
Oshin, Amachan dan Kesuksesan NHK Asadora
Hot Road: Kisah Cinta Antara Nounen Rena dan Ketua Geng Motor
Beredar Spekulasi Jika Nounen Rena Akan Pensiun dari Industri Hiburan
5 Centimeters Per Second: Romansa Romantika dalam bentuk Animasi

Ama, sejatinya bukan pekerjaan untuk kaum wanita saja, ada juga kalangan pria yang menjadi Ama tetapi dengan tulisan yang berbeda (海士, “master laut”), namun jumlah perempuan yang menggeluti profesi ini jauh lebih besar, sehingga secara umum, diakui sebagai profesi untuk perempuan.

Alasan kenapa lebih banyak kaum perempuan yang menyelam adalah tubuh mereka dapat mempertahankan panas yang lebih baik di dinginnya laut karena memiliki lebih banyak lemak subkutan dibandingkan pria. Para Ama wanita di zaman dahulu hanya mengenakan cawat, bahkan selama musim dingin.

Cara menyelam para Ama terdapat dua jenis. Pertama mereka menyelam dengan bergantung pada seutas tali yang dikaitkan pada sang suami yang menantinya di atas perahu. Metode ini biasanya digunakan saat Ama menyelam di tengah lautan lepas dengan tingkat kedalaman agak tinggi. Sang suami harus tahu benar kapan ia harus menarik sang istri ke permukaan.

Para Ama dalam serial drama Amachan
Para Ama dalam serial drama Amachan

Kedua adalah dengan menyelam sendirian yang biasanya dilakukan di peairan yang agak dangkal. Di sini Ama mengikatkan diri mereka dengan seutas tali pada keranjang kayu di permukaan. Metode perairan dangkal inilah yang saya saksikan di Mikimoto Island. Saat ini tercatat masih ada sekitar 1.300 Ama yang tinggal di Jepang dengan usia berkisar antara 72 – 80 tahun.

Mereka menghabiskan waktu sekitar satu menit di bawah air pada setiap penyelaman, dan melakukannya sebanyak 50 hingga 100 kali. Keselamatan mereka sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan laut, yang berarti mereka harus bekerja bergandengan tangan dengan alam untuk mengurangi resiko kecelekaan.

Profesi menyelam Ama dijadikan sebagai warisan budaya sejak tahun 2014. Sejak tahun 2007, sudah ada sebuah geraka untuk mendaftarkan profesi ini sebagai warisan budaya di UNESCO. Dalam rangka membangun momentum untuk pendaftaran, kota Shima dan Toba ditunjuk menjadi tuan rumah acara “Ama Summit” sebanyak lima kali dari enam kali gelaran acara yang sudah berlangsung sejak tahun 2009.

Para Ama di Toba pada tahun 1947
Para Ama di Toba pada tahun 1947

Pertemuan 6 diadakan di Toba pada 7 November dan 8, dan ama dari Jepang dan Korea Selatan, hanya dua negara yang aktif di daerah ini, sepakat untuk menyebarkan budaya ama untuk G7 Ise-Shima Summit. Upaya untuk mendaftar ama memancing di daftar UNESCO juga dibahas.

Prefektur Mie, Iwate, Miyagi, Ishikawa, Fukui, Shizuoka, Tottori, Yamaguchi dan Tokushima terus berusaha menyebarkan dan melestarikan profesi Ama agar bisa terdaftar sebagai warisan budaya UNESCO.

Dalam beberapa tahun terakhir, amagoya, pondok untuk beristirahat para penyelam Ama, telah dibuka untuk umum dan melayani pengunjung yang ingin mencicipi seafood hasil tangkapan para Ama. Mereka juga bisa berbincang dan bertanya-tanya langsung kepada para penyelam.

Ama dengan keranjang untuk berburu
Ama dengan keranjang untuk berburu

“Mike tsu kuni” adalah salah satu frase sejarah untuk menggambarkan daerah Shima. Pada zaman dahulu, kata tersebut memiliki arti “bangsa yang berdedikasi menyediakan makanan untuk kaisar.” Di Prefektur Mie yang kaya dengan makanan laut, terutama di Shima, dikenal karena keanekaragaman hasil tangkapan lautnya.

Dalam “Manyoshu,” konon masih hidup antologi tertua puisi Jepang, ada sebuah puisi oleh Ootomono Yakamochi menggunakan istilah “mike tsu kun”i sebagai julukan puitis, menggambarkan sebuah perahu kecil dengan para penyelam Ama.

Di zaman modern sekarang ini, apa yang dilakukan para penyelam Ama di Prefektur Mie memang patut mendapatkan apreasi yang mendalam mengingat mereka terus menjaga dan melestarikan salah satu profesi tradisional untuk kaum wanita di Jepang.

Sumber: Japan Times, Wikipedia

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



thedailyjapan 1802 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.