Oshiya: Sosok Penting yang Mendukung Kelancaran Kereta di Jepang




Apakah Anda salah satu orang yang selalu menggunakan kereta untuk bekerja atau bepergian? Rasanya akan selalu sumpek hingga muak melihat kondisi stasiun dan kereta saat jam orang-orang pergi atau pulang bekerja. Hal ini tidak jauh berbeda dengan kondisi yang ada di Jepang namun dengan situasi yang lebih terkontrol.

Kereta adalah alat transportasi utama di Jepang. Tidak perduli dimana level seseorang itu berada, apakah dari kelas orang berada, menengah ataupun kelas bawah, mayoritasnya akan menggunakan kereta. Jika Anda pernah ke Jepang, coba lah merasakan untuk naik kereta di jam kerja.

Penuh sesak tetapi tidak (terlalu) semrawut. Ya, disinilah mungkin yang membedakan dengan kondisi di Indonesia. Orang-orang Jepang lebih taat dan tidak ada, atau mungkin tepatnya jarang yang suka menyelak atau menyerobot satu sama lain.

Stasiun-stasiun di Tokyo terutama di stasiun Shinjuku, Tokyo dan Shibuya mungkin menjadi salah satu paling padat di dunia. Stasiun Shinjuku Dengan 36 peron dan rata-rata 3.64 juta pengunjung setiap harinya di tasbihkan sebagai stasiun tersibuk di dunia menurut Guinness World Records.

Dengan kondisi seperti ini, kesadaran seseorang memang tidak lah cukup, stasiun butuh bantuan untuk mengatur para penumpang dan ini adalah tugas dari Oshiya!

Pendorong penumpang kereta atau oshiya pertama kali diberlakukan di Stasiun Shinjku untuk jalur Eidan (Tokyo Metro) dan pada jalur-jalur yang sangat padat seperti Ginza, Hanzomon dan Tozai dengan okupansi lebih dari 120%.

Awalnya mereka disebut dengan istilah “petugas pengatur penumpang”. Pada saat itu, para pelajar pekerja paruh waktu yang banyak melakukan perkejaan ini. Tujuannya tentu untuk mendapatkan penghasilan.

Seiring dengan semakin padatnya jumlah penumpang, oshiya pun dijadikan sebagai lapangan pekerjaan untuk orang Jepang.

Ini adalah profesi mulia yang mungkin setingkat dibawah profesi guru di Jepang. Tugasnya terdengar mungkin mudah yakni hanya mendorong orang tetapi pada kenyataannya sangat berat dan menjadi tolak ukur apakah kereta sudah bisa untuk diberangkatkan kembali atau tidak.

Jika para oshiya belum bisa mendorong masuk semua penumpang, kereta akan terus berhenti dan jika mereka teledor, bukan tidak mungkin keselamatan para penumpang yang menjadi taruhannya.

Seperti apakah cara kerja para oshiya?

  1. Pertama-tama mereka harus mengecek keamanan di peron dan penumpang sebelum kereta tiba di stasiun.
  2. Kemudian mereka harus mengamati keluar masuknya setelah kereta tiba di stasiun.
  3. Apabila ada penumpang yang belum masuk kereta, mereka diharuskan untuk membantu penumpang untuk mencari tempat yang layak di dalam gerbong kereta.
  4. Setelah itu pintu kereta ditutup. Saat pintu ditutup, para Oshiya diwajibkan memastikan tidak terdapat seseorang atau barang yang terjepit di pintu gerbong.
  5. Andai kata yang terjepit, Oshiya harus sigap mendorongnya agar dapat masuk ke dalam kereta.
  6. Biasanya, setelah tugasnya selesai di satu pintu atau pintu sudah dapat tertutup, maka mereka ini akan mencari pintu kereta lain.
  7. Selain semua hal di atas, mereka juga bertugas mencegah orang yang nekat masuk ke dalam rangkaian kereta ketika kondisi sudah kereta sudah penuh atau tidak memungkinkan. Oshiya pun juga dapat melarang penumpang yang memaksa masuk kereta ketika kondisi seperti itu.
  8. Setelah memastikan semua pintu tertutup, mereka mengibarkan bendera atau memberi tanda dengan lampu ke arah masinis kereta. Hal itu dilakukan sebagai pertanda bahwa, rangkaian kereta api sudah siap dan aman untuk berangkat.

Jepang adalah tipe negara yang selalu berbenah, berbenah, dan berbenah untuk lebih maju dan mengatasi semua permasalahan yang ada di dalam negara mereka, termasuk juga untuk masalah kepadatan penumpang di stasiun kereta.

Dahulu kala, jumlah kereta mereka tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang menggunakan kereta, dan dengan karakter orang Jepang yang selalu ingin tepat waktu, mereka pun berebut untuk naik kereta lebih awal. Hal ini yang membuat stasiun membutuhkan bantuan para oshiya untuk mengatur keluar – masuknya para penumpang kereta.

Kini, kereta semakin banyak di Jepang, jeda waktu antara satu kereta dan kereta berikutnya tidak lah terlalu lama sehingga penumpang tidak perlu memaksakan diri untuk naik ke dalam kereta yang sudah melebihi kapasitas. Mereka tetap menjadi bagian stasiun, dan tetap membantu ketertiban para penumpang namun dorongan-dorongan mereka sudah tidak sebanyak dan sekuat jika dibandingkan dengan era kejayaan mereka ditahun 1970 hingga 1980’an.

Penasaran seperti apa kerja para oshiya di stasiun? Simak video dibawah ini:

Referensi: Wikipedia, gawanglawan

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



About thedailyjapan 1809 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.