Omiya Ardija: Tidak Ingin Hanya Sekadar Jadi Tim Pelangkap




Keberhasilan Omiya Ardia promosi ke J1 membuat mereka berbenah agar tidak menjadi sekedar tim pelengkap

Berstatus sebagai Juara J2 (divisi 2) tentu saja membuat Omiya Ardija tidak ingin hanya numpang lewat atau sekedar jadi tim pelengkap di J1, pastinya mereka juga berambisi untuk bisa bersaing di kasta tertinggi Liga Jepang musim ini.

Profile

Cikal bakal Omiya Ardija lahir pada tahun 1969 sebagai divisi sepakbola dari Nippon Telegraph and Telephone Kanto, kemudian pada tahun 1985 saat bermain di Liga Kanto mereka dikenal sebagai NTT Kanto Soccer Division, sebelum akhirnya berganti nama menjadi Omiya Ardija pada tahun 1998 saat mereka berlaga di JFL.

Nama klub berasal dari kata ‘Ardila’ yang merupakan bahasa Spanyol dari ‘Tupai’ tetapi untuk membuatnya lebih mudah diucapkan oleh masayarakat di Jepang maka kata ‘Ardila diubah menjadi ‘Ardija’.

Tupai adalah semacam maskot untuk Omiya City, kota dimana mereka bersinggah, dan nama itu dipilih dengan harapan menjadikan klub menjadi lebih familiar bagi penduduk setempat.

Klub berseragam orange ini bermarkas di NACK5 Stadium Omiya yang sebelumnya dikenal sebagai Stadion Omiya Park dan merupakan salah satu tempat yang digunakan untuk Olimpiade Tokyo 1964.

Ardija bergabung dengan  J.League pada tahun 1999 ketika J2 resmi diluncurkan, dan menghabiskan enam musim bermain di divisi kedua. Pada musim 2004 Ardija berada di posisi kedua klasemen akhir  di J2 dan mendapatkan tiket promosi ke J1.

Selama di J1 Ardija selalu mengakhiri kompetisi di papan bawah dan tercatat raihan terbaik mereka adalah ketika mengakhiri liga diperingkat 12 pada musim 2006, 2008, dan 2010.

Menyandang predikat tim papan bawah, Ardija justru pernah membuat rekor tidak terkalahkan dalam 21 pertandingan liga secara beruntun direntan musim 2012 dan 2013 yang masih bertahan hingga sekarang.

Meski belum pernah memenangkan gelar atau menjadi pesaing serius di Piala Liga, sejak pertama memasuki J1 Pada 2005 lalu Ardija  tak pernah terperosok di bawah peringkat 15, namun setelah bertahan selama 10 musim di J1 mereka harus rela turun kasta ke J2 setelah pada musim 2014 setelah mengakhiri liga di peringkat ke 16.

Koreo fans Omiya Ardija jelang Derby Saitama 2014. Duel panas dengan Urawa Red Diamonds akan tersaji kembali musim ini
Koreo fans Omiya Ardija jelang Derby Saitama 2014. Duel panas dengan Urawa Red Diamonds akan tersaji kembali musim ini

Namun tidak perlu waktu lama bagi Ardija untuk kembali ke kasta tertinggi di Jepang setelah mereka hanya bertahan satu musim di J2 setelah menjadi juara di musim 2015.

Pada tahun 2001, Omiya City bergabung dengan Urawa City beserta kota lainnya untuk membentuk Saitama City, sejak saat itu Ardija pun harus berbagi satu kota dengan Urawa Red Diamonds.

Hal ini menimbulkan daya tarik tersendiri karena memunculkan Derby Saitama yang menjelma menjadi pertandingan antara rival sekota paling sengit di Jepang.

Dibandingkan dengan Urawa, Ardija memang inferior. Mereka sempat menelan kekalahan telak enam gol tanpa balas, namun begitu mereka juga sempat memetik kemenangan bersejarah 1-0 yang masih dikenang hingga kini.

Duel ini dipastkan akan sangat sengit musim ini mengingat salah satu mantan punggawa mereka Zlatan Ljubijankic, kini berseragam Urawa. Ia sudah pasti akan mendapatkan sambutan ‘hangat’ dari para pendukung Ardija.

Tidak banyak pemain berlabel bintang yang pernah bermain untuk Ardija. Meski demikian, mereka patut berbagangga karena mantan penjaga gawang utama timnas Jepang Eiji Kawashima mengalami karir profesionalnya di klub ini.

Selain Kawashima, ada juga nama pemain internasional Panama Jorge Valdes, dan yang terkahir adalah mantan penggawa timnas Serbia Dragan Mrda yang kini menjadi andalan mereka di lini depan.

Peluang musim 2016

Sekembalinya ke J1, Ardija cukup aktif di bursa transfer  musim ini. Setidaknya mereka mendatangka 7 pemain baru ke NACK 5 Stadium.

Diposisi penjaga gawang, mereka mendatangkan Kenya Matsui dari Kawasaki Frontale untuk menjadi pelapis Nobuhiro Kato. Sedangkan untuk pertahanan, duet Kosuke Kikuchi dan Hiroyuki Komoto masih akan dipercaya.

Di lini tengah, Ardija ditinggal dua pemain yang cukup besar jasanya dalam mangentarkan mereka kembali ke J1 yakni Carlinhos yang hijrah ke Tokushima Vortis serta Daigo Watanabe yang memutuskan untuk melanjutakn karirnya di Korea bersama Busan IPark.

Dragan Mrdja akan tetap menjadi tulang punggung Omiya Ardija untuk musim ini
Dragan Mrdja akan tetap menjadi tulang punggung Omiya Ardija untuk musim ini

Meskipun tanpa dua pemain tersebut, lini tengah Ardija tampaknya tidak akan terlalu kehilangan karena sukses mendatangkan pengganti yang sepadan dalam diri Yuzo Iwakami dan Nejc Pecnik.

Ardija sangat beruntung bisa mendapatkan jasa Pecnik dari JEF United. Pemain timnas Slovenia tersebut sukses membukukan 14 gol musim lalu.

Untuk lini depan, menjadi posisi yang paling menjajikan bagi Ardija karena bercokol dua nama pemain  yang menjadi sumber gol bagi mereka musim lalu, Akahiro Ienaga dan Dragan Mrdja.

Duet tersebut menjadi jaminan mutu bagi Ardija untuk meneror pertahanan lawan-lawannya .

Musim lalu kedua pemain itu menghasilkan hampir separuh dari jumlah gol Ardija dengan total 30 gol.

Catatan khusus patut diberikan kepada Mrdja yang menunjukan loyalitasnya kepada klub meski musim lalu Ardija harus turun kasta bermain di divisi dua.

Meskipun sangat aktif di bursa transfer kali ini, nampaknya memang masih akan berat bagi Ardija untuk bisa langsung bersaing di papan atas. Target realistis untuk mereka adalah berusaha bertahan agar tidak kembali degradasi, memenangkan Derby Saitama, dan tidak hanya sekedar jadi tim pelengkap.

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment




About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.