Ohaguro: Pesona Kecantikan Tradisional Jepang




Seorang Geisha dengan Ohaguro

Ohaguro, yang secara harafiah dapat diartikan sebagai “gigi dihitamkan”adalah sebuah praktek dimana wanita akan menghitamkan giginya.

Jepang selain memiliki pesona wisata yang indah, juga dikenal sebagai negara yang memiliki kultur dan budaya yang melimpah. Salah satu yang menarik adalah Ohaguro.

Meski praktek mewarnai gigi dikenal juga di Asia Tenggara, Pasifik dan Amerika Selatan, yang paling dikenal adalah di Jepang.

Baca Juga
Para Ibu di Jepang Tetap Setia Mengantar Anak Mereka Dengan Mamachari
Sumo, Dari Ritual Keagamaan Shinto Hingga Jadi Hiburan Kelas Atas
Etika dan Aturan Tempat Umum di Jepang yang Harus Diketahui
Fenomena Wanita Jepang Gemar Memakai Masker

Tidak diketahui pasti kapan dan bagaimana kebiasaan ini bermulai. Akan tetapi kebiasaan ini menjadi populer pada periode Heian (abad ke 8 – 12 Masehi).

Pada waktu ini, para bangsawan, terutama wanita mempraktekkan kebiasaan ini. Tren ini mengimbangi salah satu tren kecantikan lainnya di masa yang sama.

Selain gigi hitam, wajah yang dipoles putih juga menjadi sangat diminati di periode Heian ini. Konon praktek menghitamkan gigi juga dapat memperkuat gigi dan melindungi dari gigi berlobang. Selain itu, praktek ini juga melambangkan kesetiaan pada tuannya bagi para samurai.pinSayangnya, proses kosmetik yang memutihkan wajah ini biasanya membuat gigi nampak lebih kuning dari sesungguhnya. Untuk mengatasi masalah ini maka para wanita kemudian menghitamkan giginya.

Tradisi ini terus dipraktekkan  di berbagai periode sejarah Jepang. Pada periode Edo (abad 17 – 19 Masehi), praktek ini telah meluas dari kalangan bangsawan ke rakyat jelata juga.

Kebiasaan ini berkembang bagi wanita yang sudah berkeluarga, wanita di atas usia 18 tahun, para PSK dan geisha. Jadi gigi hitam melambangkan kedewasaan secara seksual.

Di periode Meiji, yang mengikuti periode Edo, praktek Ohaguro tidak lagi menjadi trendy. Sebagai upaya modernisasi, Pemerintah Jepang melarang praktek Ohaguro pada tahun 1870.

Mengikuti kebiasaan yang lazim sekarang, gigi dibiarkan warna aslinya. Hal ini diperkuat ketika Permaisuri Kaisar Jepang muncul di depan umum pada tahun 1873 dengan gigi putih.

Hal ini menandakan akhir trend Ohaguro sebagai lambang kecantikan. Di beberapa wilayah yang didiami kaum geisha (wanita penghibur Jepang), masih ditemukan wanita mempraktekkan Ohaguro.

 

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.