Menyelusuri Gifu, Kota yang Menjadi Rumah Oda Nobunaga




Patung emas Oda Nobunaga di depan stasiun JR Gifu

Jepang saat ini menjadi salah satu primadona bagi masyarakat Tanah Air yang ingin berwisata ke luar negeri. Berbagai acara travel fair pun diadakan oleh perwakilan dari Negeri Sakura guna mempermudah orang-orang Indonesia untuk mendapatkan tiket pesawat murah maupun akomodasi dan informasi lainnya ketika hendak pergi ke Jepang.

Beberapa kota pun masih cukup mendominasi sebagai tempat yang akan dikunjungi, seperti Tokyo, Osaka dan Kyoto. Namun, jika kalian ingin pergi ke kota lain yang belum terlalu mainstream di dunia pariwisata Jepang dan tetap ingin melihat peninggalan sejarah zaman dahulu, mungkin Gifu bisa menjadi salah satu pilihan destinasi wisata lain.

Gifu sempat menjadi salah satu kota paling makmur di Jepang

Berada di Prefektur Aichi, pesona Gifu mungkin masih kalah dengan salah satu kota yang sering menjadi destinasi wisata di prefektur tersebut, yakni Nagoya. Akan tetapi, tidak ada salahnya ketika kita pergi ke Nagoya lalu menyempatkan diri mengunjungi Gifu karena hanya memakan waktu 30 menit saja menggunakan kereta.

Kota yang satu ini cukup memiliki nilai sejarah. Pada zaman Sengoku, ada sebuah pepatah terkenal di sana yang berbunyi “Kuasai Gifu maka kamu akan menguasai Jepang”. Kala itu, kota yang memiliki nama Mino tersebut dipimpin oleh klan Toki. Kota Mino merupakan tempat sejarah, tradisi dan pertempuran.

Gifu juga menjadi rumah bagi panglima perang Oda Nobunaga. Seperti pepatah yang sudah disinggung di atas bahwa barangsiapa yang berhasil menguasai Gifu maka ia akan menguasai Jepang, sosok samurai legendaris pada abad ke-16 itu pun memulai ambisi besarnya untuk menyatukan Jepang usai menaklukan Provinsi Mino yang kemudian dirubah namanya menjadi Gifu.

Nobunaga Festival diselenggarakan setiap tahunnya pada bulan Oktober di Gifu

Nobunaga kemudian memperkenalkan sistem pasar bebas yang disebut Rakuichi Rakuza (楽市楽座). Penduduk dapat berdagang secara leluasa, dan perdagangan tidak lagi dimonopoli kuil-kuil Buddha dan Shinto daerah-daerah. Kota Gifu begitu ramai hingga misionaris Yesuit Portugis Louis Frois yang mengunjungi Gifu sebagai tamu Nobunaga menyebut Gifu sebagai “Babilonia yang ramai”.

Sayangnya, sekarang ini pesona Gifu mulai redup dan orang Jepang sendiri lebih sering menggunakan kota ini sebagai tempat ‘singgah’ bagi yang bekerja di Nagoya. Tetapi, pemerintah kota saat ini sedang berusaha mengubah “image” kota Gifu dan mempromosikan makanan lokal, kekayaan sejarah, tradisi budaya dan lainnya kepada masyarakat dan turis.

Setiap bulan Oktober diselenggarakan Nobunaga Festival. Gelaran tahunan yang mampu mendatangkan banyak turis asing dan lokal dari berbagai penjuru Jepang ini diselenggarakan untuk menghormati jasa Nobunaga kepada kota Gifu dan untuk menyambut musim gugur.

Lantas, apa saja tempat-tempat menarik di kota Gifu yang membuat ‘rumah Nobunaga’ ini layak untuk menjadi saah satu destinasi wisata kalian saat mengunjungi Jepang? Berikut diantaranya yang kami rangkum dari berbagai sumber:

1. Kuil Gifu Gokoku

Salah satu tempat terbaik di kota Gifu adalah Kuil Gifu Gokoku, yang terletak di dekat sungai Nagara dan berada di hutan di kaki Gunung Kinka. Kuil ini sendiri didedikasikan untuk prajurit yang berasal dari prefektur Gifu yang mati ketika perang. Ketika “Russo-Japanese War” (Perang Russia-Jepang), kuil ini mengalami kerusakan dan dibangun kembali pada tahun 1940.

Bentuknya yang sederhana, elegan dan dikelilingi oleh pepohonan bisa menjadi tempat kita beristirahat sambil berfoto-foto. Mendengarkan suara burung dan serangga serta merasakan udara segar dari sungai pun bisa membuat kita bersantai sejenak dari hiruk pikuknya perkotaan.

2. Gunung Kinka

Bosan dengan Gunung Fuji? Mungkin kalian bisa coba untuk mendaki Gunung Kinka yang merupakan salah satu ikon di kota Gifu. Berada di ketinggian 329 meter di atas permukaan laut, gunung yang satu ini dikelilingi oleh hutan yang memberikan udara segar dan kehidupan satwa liar.

Di puncak gunung terdapat Kastil Gifu yang bisa diakses dengan berjalan kaki atau menaiki “Kinkazan” (kereta gantung). Dahulu gunung ini pun pernah disebut dengan nama Gunung Inaba. Ada empat jalan setapak berbeda yang bisa dilalui, dua jalan untuk pendaki yang sudah sangat berpengalaman.

Satu untuk pendaki menengah dan satu lagi merupakan jalan setapak yang bisa dilalui untuk para pendaki pemula. Di setiap jalan memiliki kuil kecil, rumah untuk minum teh dan tempat peristirahatan bagi para pendaki untuk beristirahat dan merasakan kesegaran alam di sana.

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



Faiz Fachnaz Saputra 52 Articles
Gamer | IGN: Riyuunyan | Japanese Football Enthusiast | Pokemon Master | Freelance Writer | SAISAI Family x AID x i's