Mengenal Shinichi dan Sepeda Roda Tiganya, Korban Bom Atom Hiroshima 1945




Tragedi bom atom yang menimpa Hiroshima dan Nagasaki meninggalkan pilu yang mendalam untuk seluruh warga Jepang

72 tahun setelah tragedi bom atom Hiroshima dan Nagasaki, kenangan akan pahitnya peristiwa tersebut masih dapat dilihat melalui kisah dan benda peninggalan yang terdapat di Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima. Dalam rangka mengenang 72 tahun tragedi tersebut, tim The Daily Japan mendatangi museum yang terletak di jantung kota Hiroshima tersebut khusus untuk para pembaca TDJ.

Baca Juga
Kenapa Hiroshima dan Nagasaki Dijatuhkan Bom Atom oleh Amerika Serikat?
Mengunjungi Kuil Itsukushima Yang Terapung di Hiroshima
Kyoto Sejatinya Target Utama Bom Atom Pada Perang Dunia II
Taman Monumen Perdamaian Hiroshima, Mengenang Pentingnya Perdamaian

Untuk dapat mencapai Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima, Anda dapat menaiki kereta trem yang berlalu-lalang di atas jalan raya sekitar kota Hiroshima. Dengan menaiki trem nomor 2 atau 6 dari stasiun JR Hiroshima dan turun di perhentian Genbaku Dome-Mae, maka anda dapat mencapai kawasan Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima.

Anda hanya perlu merogoh kocek sebesar 160 Yen atau sekitar 19 ribu rupiah untuk menaiki trem tersebut, namun perlu diingat jika kartu SUICA tidak dapat digunakan di dalam trem. Kartu yang dapat digunakan di trem Hiroshima atau Hiroden adalah PASPY. Jika anda tak memiliki PASPY, maka harus membayar dengan uang tunai.

Taman Monumen Perdamaian Hiroshima

Begitu turun dari perhentian Genbaku Dome-Mae, anda akan melihat arah petunjuk menuju Taman Perdamaian dan akan terlihat dengan jelas Genbaku-Dome yang dulunya merupakan Balai Promosi Industrial Hiroshima. Kerangka bangunan itu masih tetap berdiri walaupun terlihat sangat jelas sudah 80% hancur akibat tragedi naas 72 tahun silam.

Awalnya terdapat pro dan kontra mengenai Genbaku-Dome. Sebagian masyarakat lokal menginginkan sisa bangunan tersebut dihancurkan karena kerap membangkitkan kenangan memilukan. Namun, sebagian lainnya menginginkan sisa bangunan itu tetap dilestarikan sebagai salah satu bentuk peringatan bom Hiroshima dan juga sebagai simbol perdamaian. Pada akhirnya, kerangka bangunan tersebut tetap dilestarikan hingga sekarang dan menjadi titik utama yang menyapu perhatian para pengunjung.

Genbaku-Dome yang menjadi saksi bisu tragedi bom atom 1945

Ketika menuju pintu masuk museum, terdapat titik lainnya yang menarik perhatian, yakni tugu peringatan untuk korban bom atom Hiroshima. Terlihat beberapa orang mengambil gambar tugu tersebut dan menyempatkan berdoa untuk para korban.

Pada tahun 2016, Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama sempat mengunjungi tugu tersebut. Ia menjadi presiden AS pertama yang berkunjung ke taman peringatan Hiroshima. Ia pun sempat bertemu dengan para korban yang selamat dari tragedi tersebut. Walaupun demikian, Obama telah menyatakan sebelum keberangkatannya bahwa ia tidak akan membuat pernyataan permintaan maaf atas tragedi yang menewaskan ratusan ribu masyarakat Hiroshima.

Tiket masuk Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima

Memasuki museum anda harus membeli tiket masuk seharga 200 Yen atau lebih kurang 24 ribu rupiah. Sayang sekali ketika tim TDJ mengunjungi museum tersebut, terdapat beberapa bagian gedung yang ditutup karena tengah di renovasi. Namun, perjalanan kami selama di dalam museum tidak mengecewakan, justru membuat kami merinding dan tak kuat menahan haru.

Memasuki museum, mulai terlihat foto-foto Hiroshima sebelum bom atom dijatuhkan dan meluluhlantakkan kota tersebut. Salah satu diantaranya adalah foto sekumpulan siswa di sekolah. Seketika terlintas di benak pikiran bahwa senyum mereka seketika saja hilang begitu bom dijatuhkan bahkan mungkin saja mereka pun turut lenyap seiringan dengan senyum mereka yang sirna.

Foto anak-anak sekolah di Hiroshima yang menjadi korban bom atom 1945 di dalam museum

Ketika salah satu dinding memperlihatkan tanggal 6 Agustus 1945, perjalanan memilukan di dalam museum pun baru benar-benar dimulai. Diawali dengan pengetahuan mendasar mengenai bagaimana peristiwa itu terjadi, para pengunjung diperlihatkan bagaimana senjata nuklir yang begitu dahsyat langsung menghancurkan seluruh kota Hiroshima dalam hitungan detik.

Berbagai pengetahuan umum mengenai senjata nuklir dan alasan mengapa kota Hiroshima dan Nagasaki dipilihpun dijelaskan. Pada intinya terdapat beberapa kandidat kota yang sudah disurvei oleh pihak AS, namun mereka akhirnya memilih Hiroshima dan Nagasaki setelah mengkalkulasikan dari segi topografi dan melihat menjatuhkan bom atom di kedua kota tersebut akan efektif membuat Jepang tunduk mengingat ledakannya akan sangat besar.

6 Agustus pukul 08:15 waktu dijatuhkannya bom atom di Hiroshima

Terdapat pula satu bagian khusus yang memperlihatkan video testimoni dari korban yang selamat. Video tersebut mayoritas diambil puluhan tahun silam. Tim TDJ menyempatkan menonton salah satu video yang memperlihatkan testimoni dari seorang pria paruh baya. Ia menceritakan bagaimana tubuhnya yang penuh luka sangat sulit untuk pulang ke rumah dari sekolahnya dan bagaimana ia menyaksikan temannya menjemput ajal dalam kondisi yang sangat mengenaskan.

Cerita serupa terdapat pula di beberapa pajangan yang terdapat di dalam museum. Salah satunya adalah seragam sekolah yang sudah usang, robek dan terlihat pula bercak-bercak darah. Seragam tersebut merupakan milik salah satu korban bom atom Hiroshima yang pada saat kejadian tengah berada di sekolah. Seragam tersebut disumbangkan oleh keluarga korban.

Diceritakan pula bagaimana sulitnya keluarga korban mencarinya, bahkan ketika sudah ditemukan pun pihak keluarga sudah sulit mengenali wajahnya. Pihak keluarga pun menceritakan kata-kata terakhir dari sang anak yang lebih kurang menggambarkan keputusasaannya dan bagaimana anak sekolah sepertinya tak mungkin selamat dari tragedi tersebut.

Sepeda roda tiga milik Shinichi Tetsutani yang berada di dalam museum

Peninggalan lainnya yang dipajang di museum adalah sebuah sepeda roda tiga milik Shinichi Tetsutani. Shinichi yang pada saat itu berumur 3 tahun 11 bulan tengah bermain sepeda di depan rumahnya. Begitu bom atom jatuh di Hiroshima, Shinichi dan sepeda roda tiganya terbakar hingga akhirnya Shinichi pun meninggal pada malam harinya. Awalnya sepeda roda tiga tersebut dikubur bersama dengan jasad Shinichi, namun akhirnya pihak keluarga memutuskan untuk menyumbangkannya kepada pihak museum.

Selain cerita mengenai para korban yang langsung tewas sesaat setelah bom, museum ini juga menceritakan mengenai para korban lainnya yang harus menderita selama beberapa bulan atau bertahun-tahun kemudian. Diantaranya adalah salah satu korban yang bertahan sekitar 3 bulan dan tetap mengenakan pakaian yang ia pakai ketika tragedi tersebut terjadi. Bajunya baru bisa ditanggalkan setelah ia meninggal karena sudah menempel lekat dengan tubuhnya.

Foto Shinichi Tetsutani (kanan) bersama kakaknya yang dipajang di dalam museum

Selain itu diceritakan juga korban yang pada saat kejadian tidak terkena dampak langsung. Namun beberapa tahun kemudian mereka mengidap kanker akibat radiasi dari bom Hiroshima hingga akhirnya mereka meninggal beberapa tahun setelah kejadian.

Apabila anda mengunjungi Hiroshima, maka museum ini menjadi salah satu tujuan yang wajib anda singgahi. Perjalanan memilukan selama di dalam museum akan dapat lebih terasa jika anda menyaksikannya dengan mata anda sendiri.

Museum ini membuka mata para pengunjungnya bahwa senjata nuklir bukanlah solusi dan dampaknya sangat mematikan bagi masyarakat. Selain itu, museum ini juga memperlihatkan bagaimana kuatnya masyarakat Jepang, terutama Hiroshima untuk kembali menata kehidupannya dan bangkit dari keterpurukan.

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



Chaula Rininta 7 Articles
C.R.A Food and Travel Hunter 武藤十夢推し @ayaelectro 📷: Samsung A5 2016 + Fujifilm XA3 Jakarta, Indonesia - Singapore ayaelectro.wordpress.com