Mengenal Putri Sayako, Putri tunggal Kaisar Akihito yang Melepas Gelar Bangsawan Karena Cinta




Putri Sayako bersama sang suami, Yoshiki Kuroda

Darah bangsawan dan segala keeksklusifan membuat keluarga kerajaan nyaris tak tersentuh hal-hal yang lazim terjadi di kalangan rakyat jelata. Belum lagi aturan kerajaan yang mengikat sejak lahir. Saat beranjak dewasa, sederet tugas untuk mengabdikan hidup pada kerajaan pun menanti.

Fakta ini membuat anggota keluarga kerajaan tidak bisa sembarangan menentukan pilihan hidup, termasuk dalam memilih pasangan. Tak jarang mereka pasrah dengan perjodohan, namun tidak sedikit pula yang mengambil langkah mencengangkan hingga melawan aturan untuk menentukan pasangan hidupnya, menentang perjodohan yang berakhir dengan melepas gelar kebangsawanan.

Pada 30 Desember 2004, Kantor Rumahtangga Istana mengumumkan pertunangan Putri Sayako dengan Yoshiki Kuroda, seorang perancang kota yang bekerja untuk pemerintah metropolitan Tokyo. Meski tunagannya adalah kawan lama Pangeran Akishino, namun ia tidak memiliki darah bangsawan dan membuat Putri Sayako harus melepaskan gelarnya dari Kekaisaran Jepang.

Perubahan statusnya Putri Sayako adalah tuntutan undang-undang tahun 1947 yang mewajibkan anggota Kekaisaran Jepang menanggalkan status kelahirannya, keanggotaan resmi di keluarga kekaisaran dan tunjangan-tunjangannya pada saat pernikahannya dengan warga biasa.

Terlahir tanggal 18 April 1969 di Istana Terpisah Aoyama, sebagai anak ketiga Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko (waktu itu mereka berstatus Putra Mahkota dan Putri Mahkota), bayi yang baru lahir ini langsung diberikan nama sebagai Sayako dan gelarnya adalah Nori no Miya atau Putri Nori, oleh kakeknya Kaisar Hirohito. Tak seperti putra-putri kaisar sebelumnya yang pengasuhannya dipisah dari ayah ibunya, pengasuhan Putri Sayako ini berada dalam istana, bersama ayah-ibu dan kedua kakak laki-lakinya.

Putri Sayako menyelesaikan pendidikannya di Jurusan Sastra dan Bahasa Jepang, Fakultas Sastra di Universitas Gakushuin pada tahun 1992. Setelah lulus kuliah, ia langsung bergabung di Institut Ornitologi Yamashina, Prefektur Chiba dan melakukan risetnya sebagai peneliti dan periset burung paruh waktu di sekitar Istana Kekaisaran maupun Istana Akasaka. Hasil risetnya ini ditulisnya dalam artikel-artikel ilmiahnya tentang burung. Bahkan, beliau melengkapinya di ensiklopedia hewan terbitan tahun 1997.

Putri tunggal Kaisar Akihito tersebut juga berpartisipasi dalam kegiatan Internasional dan duta bagi negaranya—sebagai bagian dari tugas-tugas kekaisaran. Ini ditunjukkan dengan menerima tamu dari negara asing, bahkan beliau sempat mengunjungi ke berbagai negara, mewakili negeri Sakura dan keluarga Kekaisaran untuk menjalin hubungan antar negara, sebut saja Slowakia, Slovenia, dan Republik Irlandia.

Di sela-sela waktunya untuk menjalani tugas dan riset, beliau bertemu dengan Yoshiki Kuroda dalam suatu pertandingan tenis, dua tahun sebelum mereka mengikat janji sucinya. Meskipun mereka pertama kali bertemu sejak anak-anak, berkat bantuan Pangeran Akishino-lah pertemuan mereka kembali terjadi dan saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Tentu, karena Kuroda adalah teman lama dari putra kedua Kaisar yang sedang berkuasa—sekaligus kakak dari Sang Putri.

Pesta pernikahan antara Sayako dan Kuroda dilangsungkan dalam upacara Shinto di sebuah hotel di Tokyo pada tanggal 15 November 2005. Kuroda adalah seorang perancang kota yang bekerja untuk pemerintah metropolitan Tokyo sekaligus kawan lama Pangeran Akishino, kakak laki-laki Sayako.  Setelah menikah dengan Kuroda, Sayako berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang ornitologis. Ia memilih untuk memusatkan perhatiannya pada keluarga barunya.

Pernikahan Putri Sayako tersebut sekaligus mengulang kembali ketika Putri Takako, adik perempuan Kaisar Akihito—yang juga putri bungsu Kaisar Showa, menikahi Hisanaga Shimazu yang merupakan pegawai bank pada tahun 1960. Kuroda mengenakan jas dan celana panjang warna hitam, sedangkan Putri Sayako lebih memilih gaun sutra warna putih berkalung mutiara ketimbang mengenakan kimono 12 lapis, juni-hitoe.

Meskipun secara status sudah menjadi warga biasa, kontribusi Putri Sayako dalam kebudayaan Jepang tak berhenti. Pada tahun 2012 lalu, Atsuko Ikeda, kakak perempuan Kaisar—sekaligus kepala pendeta wanita di Kuil Agung Ise, menunjuk Sayako sebagai asistennya; menjadi pendeta Shinto di kuil terpenting bagi keluarga Kekaisaran ini. Ya bukan tanpa alasan, meskipun beliau tetap memimpin kuil, karena usianya yang sangat tua, tentu saja membutuhkan asistennya untuk bisa menjalani tugasnya.

Sumber: Wikipedia, kompasiana

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



thedailyjapan 2215 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.