Mengapa Masih Banyak Toko Musik di Jepang?




"No music, no life." -Tower Records Shibuya

Toko musik merupakan salah satu tempat yang paling dicari bagi yang ingin  membeli rilisan single atau album terbaru dari musisi favorit sebelum masuknya era digital.

Tetapi, semenjak perubahan zaman, toko musik mulai ditinggalkan karena musisi mulai menjual karya mereka secara online dalam bentuk digital ataupun (masih) dalam bentuk CD.

Berkembangnya era digital memang perlahan mengikis toko-toko musik di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Banyak toko musik yang bersejarah kini harus gulung tikar.

HMV Shibuya
HMV Shibuya

Selain sekarang ini karya musisi sudah banyak yang dijual secara online, merebaknya pembajakan serta link download ilegal di internet juga menjadi salah satu faktor tersingkirnya toko musik.

Meskipun demikian, di Jepang toko musik justru masih tempat utama sebagai ladang bisnis para musisi untuk menjual hasil karya mereka. Baik itu toko musik besar, hingga toko musik independent masih tetap menjalankan bisnis mereka.

Disaat negara lain mulai beralih ke penjualan secara digital, musisi di Negeri Matahari Terbit lebih sering melakukan acara penjualan CD di toko-toko musik.

Lalu, mengapa musisi di Jepang lebih senang menjual karya secara fisik yang menyebabkan masih banyaknya toko musik di Negeri Sakura? Jika melihat sejarah Jepang, mereka pernah mengalami masa pengasingan diri dari pengaruh asing.

 

Salah satu toko musik independent di Nagoya
Salah satu toko musik independent di Nagoya

Hal ini menyebabkan pola pikir orang Jepang berubah, beberapa diantaranya mengenai bisnis dan teknologi, mereka memilih jalan yang berbeda dibandingkan negara lain di dunia.

Penggunaan CD dalam penjualan hasil karya musisi hingga sekarang disaat negara lain sudah beralih ke penjualan secara digital dan streaming adalah salah satu contohnya. Jepang merupakan negara yang masyarakatnya enggan mengambil resiko, hal ini menyebabkan mereka lebih memilih penggunaan CD ketimbang digital.

Selain itu, penjualan secara fisik lebih mudah untuk di kontrol oleh industri ketimbang penjualan secara digital. Meledaknya idol grup di Jepang beberapa tahun lalu membuat eksistensi toko-toko musik tetap terjaga.

Hal ini dikarenakan idol grup kerap merilis CD single yang menyertakan bonus seperti tiket untuk handshake event dan sejenisnya. Hal ini membuat para penggemar berbondong-bondong ke toko musik.

Disk Union Shimokitazawa
Disk Union Shimokitazawa

Bonus yang terdapat di dalam CD juga berbeda-beda. Contohnya, bonus yang didapat jika membeli CD di Tsutaya akan berbeda dengan toko musik lainnya. Dengan ini, CD bukan semata-mata objek untuk mendengarkan musik saja, tetapi juga menjadi merchandise yang dicari untuk dikoleksi oleh para penggemar.

Faktor utama lainnya adalah kelompok umur yang ada pada masyarakat Jepang. Kelompok umur di Jepang sekarang ini cukup jomplang sehingga membuat pembelian fisik masih digemari.

Hal ini dikarenakan golongan tua yang jumlahnya jauh lebih banyak memiliki uang untuk membeli CD dan mendengarkan musik melalui pemutar musik ketimbang di ponsel. Sementara kelompok muda, yang mana harus bekerja keras untuk mendapatkan uang biasanya mereka hanya mampu mendownload secara digital ataupun streaming.

Sumber : aramajapan

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.