Mengapa Banyak Tragedi Bunuh Diri di Jepang?




Tahun lalu di Jepang, lebih dari 25.000 orang melakukan bunuh diri atau sekitar 70 orang perhari, sebagian besar adalah laki-laki.

Meski angka itu tidak menjadikan Jepang sebagai negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia, gelar itu diyakini di pegang oleh Korea Selatan, tetapi yang terjadi di Jepang lebih tinggi dari hampir semua negara-negara kaya lainnya. Tiga kali lebih banyak dari yang terjadi di Inggris.

Tragedi Kereta

Bulan Juni tahun lalu, aksi bunuh diri kembali terjadi di Jepang dengan cara yang berbeda. Seorang pria nekat membakar tubuhnya di dalam kereta peluru atau Shinkansen yang melaju dari Tokyo menuju Osaka.

Pria ini menyiramkan cairan yang mudah terbakar dan kemudian membakar dirinya. Api dengan cepat membakar interior KA 225 dan kereta pun terpaksa berhenti mendadak di petak antara stasiun Shin-Yokohama dan stasiun Odawara.

Aksi ini menewaskan sang pelaku dan seorang wanita yang terjebak di persambungan antara kereta pertama dan kedua. Sementara itu, dua orang menderita luka serius dan delapan lainnya menderita cedera ringan.

Baca Juga
Hikikomori: Fenomena Mengurung Diri di Kamar Bertahun-Tahun
Makna Harakiri di Zaman Dahulu dan Sekarang
Dalam Satu Hari Ada 60 Orang Jepang yang Meninggal Karena Bunuh Diri
Tips Mendapatkan Visa Ke Jepang

Menurut beberapa saksi, saat melakukan aksinya, sang pelaku bunuh diri terlihat meneteskan air mata. Setelah itu, banyak media yang mencoba menggali latar belakangnya.

Pria itu tinggal sendirian dan tidak punya pekerjaan. Ia menghabiskan hari-harinya mengumpulkan kaleng aluminium dan dijual untuk daur ulang.

Tetangganya mengatakan kepada wartawan mereka telah mendengar ia menghancurkan jendela setelah mengunci dirinya keluar dari apartemen yang terlihat bobrok.

bunuh-diri
Berita tragedi bunuh diri di Shinkansen

Seorang tetangga lainnya mengatakan jika ia jarang terlihat di luar rumah dan lebih sering mengisolasi dirinya di dalam apartemen. Miskin, tua dan sendirian. Ini adalah kisah yang klasik.

Praktek Sejarah

“Isolasi adalah prekursor nomor satu saat depresi dan memacu aksi bunuh diri,” ujar Wataru Nishida, seorang psikolog dari Universitas Temple Tokyo.

“Sekarang terasa sering dan lebih umum untuk membaca cerita tentang orang-orang tua meninggal sendirian di apartemen mereka,” katanya.

“Mereka sedang diabaikan. (Dahulu) anak-anak merawat orang tua mereka saat usia senja di Jepang, tapi (sekarang) tidak lagi.”

Orang-orang sering mengutip tradisi sejarah Jepang tentang “bunuh diri terhormat” sebagai alasan untuk mengakhiri hidupnya.

“Ketika semuanya gagal, beberapa orang merasa Anda hanya bisa bunuh diri dan asuransi akan membayar.” Wataru Nishida.

seppuku

Praktek Samurai untuk melakukan “Seppuku” atau para pilot muda dengan “Kamikaze” ditahun 1945, menunjukkan ada alasan budaya yang berbeda mengapa orang Jepang lebih cenderung untuk mengambil kehidupan mereka sendiri.

“Jepang tidak memiliki sejarah kekristenan, jadi di sini bunuh diri bukanlah dosa. Bahkan, beberapa melihat hal itu sebagai cara untuk mengambil tanggung jawab.”

Ken Joseph dari Japan Helpline pun setuju. Ia mengatakan pengalaman mereka selama 40 tahun terakhir menunjukkan bahwa orang tua yang berada dalam kesulitan keuangan dapat melihat bunuh diri sebagai jalan keluar dari masalah mereka.

“Sistem asuransi di Jepang sangat lemah, ada yang datang dan membayar untuk bunuh diri,” ungkapnya.

“Jadi ketika semuanya gagal, beberapa orang merasa bunuh diri adalah jalan keluar dan akan di tolong oleh asuransi.”

“Kadang-kadang ada tekanan tak tertahankan pada orang tua bahwa hal yang paling penuh kasih yang dapat mereka lakukan adalah mengambil kehidupan mereka dan dengan demikian memberikan sesuatu (uang asuransi) bagi keluarga mereka.”

Masalah Keuangan

Karena itu, beberapa ahli berpikir tingkat bunuh diri di Jepang sebenarnya jauh lebih tinggi dari yang dilaporkan. Banyak kematian tunggal dari orang tua yang tidak pernah sepenuhnya diselidiki oleh polisi. Menurut Ken Joseph, praktek universal mengkremasi mayat di sini juga berarti bahwa bukti apapun cepat hancur dan hilang.

Tapi itu terjadi bukan hanya kepada laki-laki lanjut usia yang berada dalam kesulitan keuangan akan memutuskan untuk melakukan tindakan mengakhiri hidup, demografi bunuh diri berkembang kepada para anak muda. Sekarang para pelaku bunuh di dominasi pria berusia 20-44 tahun.

Beberapa bukti menunjukkan anak muda melakukan bunuh diri karena mereka telah kehilangan harapan dan tidak mampu mencari bantuan. Catatan ini mulai melonjak setelah krisis keuangan Asia pada tahun 1998 dan naik lagi setelah krisis keuangan tahun 2008 di seluruh dunia.

Para ahli berpikir statistik ini naik secara langsung terkait dengan peningkatan “pekerjaan berbahaya”, praktek mempekerjakan anak-anak muda pada kontrak jangka pendek. Jepang dulu dikenal sebagai tanah pekerjaan seumur hidup tetapi di waktu yang sama masih banyak orang tua yang menikmati keamanan pekerjaan dan keuntungan berlimpah, hampir 40% dari anak-anak muda di Jepang tidak dapat menemukan pekerjaan tetap.

Teknologi Mengisolasi

Kecemasan akan masalah keuangan dan ketidakamanan yang diperparah dengan budaya orang Jepang yang tidak atau jarang mengeluh.

“Tidak banyak cara untuk mengekspresikan kemarahan atau bentuk rasa frustrasi di Jepang,” ujar  Nishida.

“Ini adalah masyarakat yang terlalu taat dengan aturan. Anak muda yang dibentuk untuk cocok dengan kotak yang sangat kecil. Mereka tidak memiliki cara untuk mengekspresikan perasaan mereka yang sebenarnya.”

“Jika mereka merasa di bawah tekanan dari bos mereka dan mengalami depresi, beberapa merasa satu-satunya jalan keluar adalah untuk mati.”

Teknologi dapat membuat hal-hal yang buruk, meningkatkan isolasi anak-anak muda. Jepang terkenal dengan kondisi yang disebut Hikikomori, jenis penyakit sosial yang akut.

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



About thedailyjapan 1807 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.