Ini Alasan Pelaku Penusukan yang Menewaskan 19 Orang di Jepang




Satoshi Uematsu, pelaku pembunuhan 19 Orang di Pusat Disabilitas Jepang

Satoshi Uematsu, warga Distrik Tsukui, Kota Sagamihara menusuk hingga tewas 19 kaum difabel di panti disabilitas tempat ia pernah bekerja dulu. Aksinya merupakan kebencian yang mendalam terhadap kaum difabel yang selama ini ia pendam.

Permukiman dengan rumah kayu dan pohon persimon yang lebat, para tetangga Uematsu tak percaya dengan laporan aksi penusukan di tempat ia pernah bekerja. Penghuni panti yang tewas kebanyakan akibat digorok lehernya.

“Anda mungkin mengharapkan saya mengatakan Uematsu terlihat aneh, atau melakukan sesuatu yang buruk, tapi tidak. Ia orang yang ramah, sopan dan sering menyapa kami tiap kali kami bertemu di jalan,” kata Akihiro Hasegawa, seperti dilansir dari Guardian.

“Saya yakin semua orang di lingkungan ini berpendapat sama,” lanjutnya lagi.

Menurut pria 73 tahun itu, Uematsu dengan mudah dikenali dengan penampilannya yang unik. Rambut dicat pirang dan memiliki tato di lengan. Kendati berpenampilan seperti itu, Uematsu bukan pria yang terlibat aksi kriminal. Namun ternyata ia memendam alasan tersendiri sehingga melakukan aksi kejinya.

Baca Juga
Terjadi Penyerangan Sadis di Salah Satu Pusat Disabilitas Jepang
Hikikomori: Fenomena Mengurung Diri di Kamar Bertahun-Tahun
Menurut Menteri Keuangan Jepang, Pokemon GO Berdampak Positif Bagi Hikikomori dan Otaku
Sejarah Kelam Pembunuhan Massal di Jepang

Uematsu bekerja di panti disabilitas Tsukui Yamauri sejak Desember 2012 hingga Februari lalu. Ia keluar setelah mendapat masalah kepribadian.

Setelah melakukan aksi keji, Uematsu muncul di kantor polisi dengan pisau dan tangan bersimbah darah.

Menurut laporan terbaru, polisi Tsukui menemukan surat yang lain berisi ‘keinginan’ terpendamnya. Selain meminta pemerintah untuk memberikan eutanasia kepada difabel, ia menganggap mereka tidak pantas untuk hidup di dunia. Tsukui juga mengaku bisa membunuh mereka dengan tangannya sendiri.

“Aku bisa membunuh 470 difabel di dua fasilitas sekaligus saat melakukan jaga malam, di saat jumlah carer hanya sedikit,” tulis Uematsu.

“Aksi ini akan aku lakukan dengan cepat tanpa perlu menyakiti para staf. Setelah nanti bisa membunuh 260 orang, aku akan mengaku kepada polisi.”

Uematsu sadar bahwa ia bermasalah. Pria itu pun menjalani pengobatan di rumah sakit jiwa sesaat setelah mundur diri Februari lalu.

Di rumah sakit jiwa, Uematsu didiagnosis mengalami paranoid dan ketergantungan ganja.

“Ini bukan kriminal yang dilakukan dengan impulsif… Ia melakukannya dalam gelap, membuka pintu kamar dan menusuk, menggorok leher pasien satu per satu dengan tenang. Saya tak percaya dengan kekerasan yang ia lakukan…” ujar Gubernur Prefektur Kanagawa, Yuji Kuroiwa.

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.