Idol di Mata Seorang Otaku Perempuan: Mengapa Harus Menghakimi Kami?




Dunia idol di Jepang identik dengan gadis-gadis muda yang cantik dan juga imut atau kawaii. Dengan demikian stereotipe yang terbangun di masyarakat untuk para fans nya adalah sekumpulan laki-laki fanatik dan rela melakukan apapun untuk “pacar khayalan” mereka.

Sejumlah film dokumenter yang membahas tentang dunia idol berulang kali membahas tentang perjuangan para fans laki-laki untuk mendukung idol mereka dengan mencurahkan seluruh uang dan tenaga. Sering pula membahas sejumlah fans laki-laki yang umurnya sudah dua kali lipat dari idol mereka. Dengan demikian terbangunlah citra yang “mengerikan” tentang para fans idol di muka publik.

Tulisan ini berangkat dari kegelisahan saya menonton film dokumenter terbaru yang ditayangkan oleh BBC mengenai dua orang fans yang sudah cukup berumur dan mendedikasikan hidupnya untuk para idolanya yang masih remaja. Salah satu fans menyebutkan bahwa ia menjadi jarang mengunjungi orang tuanya karena sibuk beraktivitas peridolan.

Sementara itu satu orang fans lainnya mengungkapkan ia memutuskan meninggalkan pekerjannya dan berwirusaha. Baginya, tak ada waktu untuk mencari pasangan hidup. Menurut saya, dokumenter tersebut sangatlah laki-laki sentris. Walaupun di dalam film terlihat sejumlah fans perempuan, tak pernah ada bahasan sedikitpun dengan mereka.

Dengan demikian, saya memutuskan untuk menulis sebuah artikel yang mengungkap tentang pandangan para otaku perempuan tentang idol yang mereka kagumi. Untuk artikel ini, saya telah melakukan wawancara dengan 11 orang otaku perempuan mulai dari umur 14 hingga 31 tahun . Domisilinya pun bervariatif, mulai dari Medan, Jakarta, Makassar, hingga Samarinda. Hampir seluruh responden yang diwawancara merupakan fans dari 48 Group.

Mayoritas responden menjawab bahwa hal pertama yang membuat mereka tertarik dengan 48 Group adalah lagu-lagu yang easy listening dan juga beberapa lirik lagunya sesuai dengan kehidupan pribadi masing-masing. Selain itu, mereka juga mengungkapkan bahwa konsep yang disuguhkan oleh 48 Group berbeda dengan girlband kebanyakan dimana idol group ini menawarkan konsep tumbuh dan berkembang bersama fans. Dengan demikian, para fans dapat mengikuti proses jatuh bangun dari sang idola dari 0 hingga menjadi terkenal seperti sekarang.

Tentunya mereka tak hanya menyukai lagu-lagunya saja. Masing-masing memiliki oshimen atau member yang didukung dari grup tersebut. Ketika ditanya apa yang membuat mereka menyukai member tersebut, mayoritas kata kunci jawaban yang diberikan bukanlah “cantik”, melainkan “karakter” dan “usaha keras”. Para otaku perempuan ini mengagumi karakter kuat dari oshimen nya dan juga perjuangan mereka di umur yang masih sangat belia untuk menjadi seorang idol.

Gue punya member favorit bukan karena lucu, tapi karena emang she is such a good role model. Mereka punya pendirian kuat, tahu apa yang mau dilakukan di hidup mereka dan tahu menempatkan diri. Bagi gue jadi idol berarti lo menjadi perwakilan dari suatu citra. Jadi bukan sekadar gadis yang berjuang meraih mimpi, tapi menjadikan dirinya sendiri sebagai sebuah misi. Hal yang sangat sulit dilakukan untuk seseorang yang masih sangat muda,” ungkap Aninta yang mengagumi karakter dari Akimoto Sayaka (AKB48), Alicia Chanzia (JKT48), dan Ratu Vienny Fitrilya (JKT48).

Selain itu Aninta juga mengungkapkan bahwa para idol pun dapat menjadi rujukannya dalam hal fashion. Kultur idol yang kawaii sedikit demi sedikit mulai mengubah dirinya yang awalnya tomboy jadi lebih memperhatikan penampilannya dan merujuk pada budaya kawaii. Senada dengan Aninta, Ina Nur, seorang fans 48 Group asal Makassar juga mengatakan enaknya memiliki seorang idola yang juga seorang perempuan adalah ia dapat mempelajari fashion mereka.

Namun, kesukaan mereka terhadap para idol ini sering kali dianggap aneh oleh orang-orang sekitar, baik teman terdekat maupun keluarga. Salah satu orang responden bahkan mengungkapkan bahwa seorang temannya pernah bercanda menuduhnya lesbian, walaupun pada faktanya ia bukanlah lesbian.

Mungkin memang bercanda, namun dalah hemat saya, bercandaan ini terlihat sangat menghakimi dan juga memojokkan. Seakan-akan sudah terbangun citra bahwa para fans dari idol ini hanya melihat paras cantik dan keimutannya saja. Dengan demikian, mereka merasa berhak untuk bergurau menghakimi orientasi seksual dari seorang otaku perempuan tersebut.

Miranti, seorang fans asal Tangerang Selatan, mengungkapkan bahwa sering sekali ia dibilang aneh oleh orang lain. Ia berusaha untuk tidak peduli dengan pandangan tersebut, tetapi perasaan tidak nyaman selalu saja ada. Akhirnya ia terkadang berusaha untuk tidak terlalu menunjukkan kebiasannya “fangirling” di depan umum.

Berbeda dengan Miranti Annisa, seorang fans Shimazaki Haruka (AKB48) asal Jakarta justru tak ragu-ragu menunjukkan kesukannya terhadap para idol dengan memajang merchandise nya di meja kantornya. Menurutnya para idol ini memotivasinya ke hal-hal yang positif.

Menyukai Shimazaki Haruka membuatnya termotivasi ke Jepang dan mencari berbagai cara untuk pergi ke sana. Akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti seleksi IATSS Forum, sebuah program pelatihan kepimpinan di Jepang. Ia berhasil berangkat dan menemui banyak orang-orang baru yang membuatnya mulai mempelajari cara untuk berkontribusi pada masyarakat.

Cerita Annisa juga mengingatkan pada pengalaman saya pribadi. Pada tahun 2015, setelah lulus S1, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu yang lama di Jepang agar memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dengan oshimen saya Muto Tomu (AKB48). Saya sendiri menyukai Tomu karena melihat perkembangannya dari 0 dan juga mengangumi caranya mengimbangi kehidupan akademis dan non-akademis.

Dengan modal nekat, saya mengirimkan CV ke sejumlah perusahaan di Jepang hingga akhirnya salah satu perusahaan menyatakan mau menerima saya sebagai intern selama 2 bulan. Hidup selama 2 bulan di Tokyo dan bekerja di sebuah perusahaan asing membuat saya mempelajari sulitnya kehidupan di sebuah negara maju dan juga mempelajari etos kerja keras dari orang Jepang. Berawal dari mengagumi seorang Idol, saya mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga.

Ketika para otaku perempuan ini ditanya bagaimana mereka memandang para idol ini, jawabannya pun sangat bervariatif. Ada yang bilang hanya melihat mereka sebagai idol, ada yang melihat mereka sebagai teman, bahkan ada yang melihatnya seperti anak sendiri.

“Gue menanggap Viny (JKT48) sebagai idol aja sih. Gue gak mau terlalu tahu tentang kehidupan nyata atau aslinya dia kayak apa karena yang gue nikmatin adalah image dia sebagai idol di JKT48,” ungkap Adelia, seorang fans dari Ratu Vienny Fitriliya.

Jawaban berbeda datang dari Mira, seorang mahasiswi asal Medan yang merupakan fans dari Thalia Ivanka (JKT48). Mira mengungkapkan, “Kalau aku sih melihat idol sebagai teman penyemangat.” Athaya, 14 tahun, seorang fans JKT48 asal Samarinda mengungkapkan, “JKT48 itu menjadi mood booster sewaktu lagi ada masalah.” Sora, seorang penggemar setia dari JKT48 justru mempunyai jawaban yang sangat unik. Ia melihat beberapa idol sebagai anak atau keponakannya.

“Berhubung umurnya beda lumayan jauh dari oshimen gw sebelumnya, jadi serasa kayak ngemong anak. Gw berusaha membimbing mereka yang masih baru di dunia idol. Jadi merasa seperti punya keluarga kecil gitu. Pas kerjaan lagi numpuk banyak, rasanya senang lagi setelah liat anak-anaknya. Mereka seperti memotivasi,” ungkap Sora yang juga merupakan fans dari Takahashi Minami (AKB48).

Wawancara ini memperlihatkan spektrum yang cukup luas akan pandangan dari para otaku perempuan mengenai idolanya. Bagi mereka, mengagumi para idola tak hanya mengagumi kecantikan atau ke-“kawaii”-annya. Lebih dari itu, ada hal lain yang mereka kagumi dan bahkan pelajari, arti dari sebuah kerja keras di umur yang masih sangat belia.

Amat disayangkan ketika publik kerap menghakimi preferensi idola mereka tanpa berusaha mengetahui lebih lanjut apa alasan dibalik kekaguman tersebut. Sangat disayangkan pula ketika kerabat terdekat kerap bergurau yang terdengar menghakimi tanpa memikirkan bahwa sebenarnya ada rasa tidak nyaman yang dipendam.

Tidak akan ada yang pernah tahu bagaimana seseorang menanggapi sebuah gurauan, mungkin terlihat tak peduli tapi sebenarnya tetap terganggu. Memang sulit untuk membaca pikiran orang lain, namun akan lebih baik jika dapat berusaha menghargai preferensi masing-masing orang tanpa seenaknya menghakimi.

Tulisan ini diharapkan dapat membuka pandangan masyarakat luas tentang apa sebenarnya arti seorang idol di mata seorang otaku perempuan sehingga tak selalu terbawa arus stereotipe yang bergulir di media mainstream.