Hikikomori: Fenomena Mengurung Diri di Kamar Bertahun-Tahun




Penyakit Hikikomori di Jepang sering berujung dengan bunuh diri

Apakah Anda sudah mengetahui fenomena besar yang dapat mengancam perekonomian Jepang? Ya, namanya adalah Hikikomori. Hikikomori merupakan sebuah permasalahan kondisi kesehatan dan sosial terbesar di Jepang.

Fenomena ini membuat para pemuda di Jepang memilih untuk tinggal di rumah atau kamar, bahkan hingga puluhan tahun. Apa yang mereka lakukan? Menonton TV, browsing internet, membaca, bermain game, bahkan hingga menghindar dari kontak sosial dengan keluarga dan teman.

Diantara jutaan warga Jepang, kebanyakan pria berumur antara 15 hingga 20 tahun, merupakan kelompok terbesar yang menderita fenomena tersebut.

Hikikiomori menyakitkan bagi para keluarga, namun dampak lebih besarnya ternyata hingga pada perekonomian Jepang. Kedepannya jika fenomena ini semakin besar maka Jepang akan dapat kehilangan produktivitas angkatan muda yang dapat menghasilkan jutaan Yen.

Baca Juga
Di Jepang Ada Profesi untuk Mendengarkan Keluh Kesah
Makna Harakiri di Zaman Dahulu dan Sekarang
Dalam Satu Hari Ada 60 Orang Jepang yang Meninggal Karena Bunuh Diri
Kenapa Banyak Perjaka Tua di Jepang?

Salah seorang orang yang memutuskan untuk Hikikomori adalah Onishi Yuta, 18 tahun. Ia memutuskan untuk tidak berinteraksi dengan teman dan keluarganya. Ia pun hanya keluar dari kamarnya pada tengah malam untuk makan. Selebihnya, ia hanya tidur, browsing internet, dan membaca manga seharian penuh.

“Saya merasa nyaman seperti ini,” ungkap Yuta yang telah menghabiskan 3 tahun Hikikomori di kamarnya.

Ternyata semasa SMP, Yuta gagal sebagai ketua kelas dan harus menghadapi rasa malu dan penilaian buruk dari orang lain. Bagi orang-orang seperti Yuta, tekanan dari keluarga dan masyarakat terlalu besar untuk dihadapi.

Seorang pakar hikikomori, Dr Takahiro Kato, pernah mengalami masalah ini pada masa remajanya. Kini ia bekerja untuk mencegah “penyakit” ini menyebar dan menghinggapi generasi muda Jepang.

Dr Kato, yang mempelajari hikikomori di Universitas Kyushu, Fukuoka, mengatakan bahwa ia sudah pernah melihat beberapa kasus paling parah yang diderita para pria berusia 50-an yang sudah menarik diri dari kehidupan sosial selama 30 tahun.

“Di balik Hikikomori terdapat alasan kebudayaan juga, yakni perasaan yang kuat akan rasa malu dan juga dependensi emosional dengan ibu,” ungkap Dokter Kato.

Dokter Kato pun mengungkapkan bahwa dominasi dari ibu dan tekanan atas performa di sekolah menyebabkan orang seperti Yuta memutuskan untuk mengurung diri di kamar.

Menurut Dokter Kato, proses pemulihan Hikikomori dapat sukses apabila dinamika interaksi keluarga berubah. Dengan demikian, seluruh keluarga pun harus terlibat dalam proses konseling.

Sumber: ABC News dan Daily Mail

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment



thedailyjapan 1806 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.