FC Tokyo: Hiroshi Jofuku Melempar Dadu Bagi Tim Ibukota




Para pendukung FC Tokyo masih menanti tim kebanggan Ibukota merengkuh gelar Liga pertamnya

Tak ada lagi gaya permainan menyerang dan teriakan Massimo Ficcadenti dari pinggir lapangan Ajinomoto Stadium. Pelatih paruh baya yang pernah menangani Atalanta di kompetisi Serie A tersebut lengser dari jabatan pelatih FC Tokyo di akhir tahun 2015.

Peringkat keempat di liga pada akhir musim, dan gagal lolos menuju fase perebutan gelar juara karena kalah selisih gol dari Gamba Osaka, membuatnya harus menyerahkan posisi kepada Hiroshi Jofuku.

Nama terakhir memang menjanjikan kestabilan bagi pendukung tim yang optimis, namun tak sedikit masihmengingat jelas bagaimana sosok yang sama membawa klub menuju jurang degradasi pada periode pertama kepelatihannya.

Ditambah hengkangnya sejumlah pemain bintang macam Yoshinori Muto, Kosuke Ota, dan Shuichi Gonda nampak berat bagi FC Tokyo untuk tetap berada di papan atas klasemen.

Profil

Berdirinya divisi sepak bola perusahaan Tokyo Gas di tahun 1935, menjadi pertanda kelahiran tim yang kelak merepresentasi Tokyo di kancah tertinggi kompetisi sepak bola Jepang.

Setelah lama hanya berkompetisi di liga amatir wilayah metropolitan Tokyo, mereka promosi ke liga wilayah Kanto pada pertengahan dekade 1980-an

Setelah menjuarai babak final turnamen antar wilayah di tahun 1991, mereka berhasil memperoleh kesempatan untuk tampil di divisi dua kompetisi Japan Soccer League.

Mereka hanya semusim bermain di kompetisi tersebut, sebelum JSL dibubarkan pada tahun 1992. Musim berikutnya mereka memutuskan untuk bergabung dan bersaing di kompetisi baru, Japan Football League(JFL).

Tokyo Gas kemudian menjadi salah satu tim yang cukup diperhitungkan ketika tampil di kompetisi JFL. Bersama penyerang asal Brasil yang kemudian hari menjadi legenda klub, Wagner Pereira Cardozo atau juga dikenal debagai Amaral, tim ini konsisten menghuni papan atas klasemen. Puncaknya mereka berhasil meraih juara di musim penutup JFL pada tahun 1998.

Yuto Nagatamo menjadi salah satu bintang yang dilahirkan oleh FC Tokyo
Yuto Nagatamo menjadi salah satu bintang yang dilahirkan oleh FC Tokyo

Pembaruan identitas menjadi tim profesional FC Tokyo diluncurkan pada tahun 1999, setelah mereka meraih hak untuk tampil di J.League division 2.

Kiyoshi Okuma, yang juga mantan pemain Tokyo Gas, langsung membawa klub ini promosi ke J.League Division 1 pada akhir musim. Mereka menempati posisi kedua klasemen akhir dibawah Kawasaki Frontale.

 

Setelah beberapa kali pergantian pelatih, jabatan itu diberikan kepada Hiroshi Jofuku pada tahun 2008. Dua musim awal dibesutnya, FC Tokyo tampak tampil menjanjikan.

Selain membawa timnya menuju lima besar klasemen, ia memberi gelar Yamazaki Nabisco Cup kedua bagi klub metropolitan ditahun 2009 dengan memunculkan nama Yuto Nagatomo yang kini berkarir di Italia bersama Inter Milan.

Namun, FC Tokyo tak lama menikmati gelar tersebut. Semusim berikutnya performa mereka jauh menurun, dan pada akhirnya terdegradasi dari J.League division 1 setelah hanya mampu mengakhiri musim di posisi 16.

Hiroshi Jofuku dipecat oleh manajemen klub, yang memutuskan memanggil kembali Kiyoshi Okuma.

Selain membawa FC Tokyo kembali promosi setelah hanya semusim terdegradasi. Okuma membuktikan dirinya sebagai pelatih kawakan setelah membawa klub meraih gelar juara Piala Kaisar pertama bagi mereka di musim 2011.

Berhasil mengalahkan Kyoto Sanga di babak final, FC Tokyo juga berhak mendapatkan tempat sebagai debutan mewakili Jepang di kancah kompetisi antarklub asia.

Ranko Popovic menggantikan Okuma memimpin armada biru-merah di musim berikutnya. Pelatih asal Serbia ini membawa tim ke babak 16 besar kompetisi antarklub asia, sementara di liga domestik hanya sanggup finis terbaik di delapan besar.

Massimo Ficcadenti kemudian hadir di awal musim 2014. Italiano pertama yang memimpin sebuah klub J.League sebagai pelatih kepala ini membawa gaya permainan menyerang yang atraktif. Ia hampir membawa FC Tokyo menuju fase perebutan gelar liga, sebelum manajemen tim memutuskan untuk tak memperpanjang kontraknya.

Selain prestasi dan sejarah yang mereka ukir dalam 17 tahun kiprah mereka sebagai tim profesional. FC Tokyo adalah salah satu klub yang memiliki fasilitas paling menunjang dari tim peserta J.League Division 1. Mereka memiliki fasilitas latihan tim utama, dengan lapangan yang cukup besar di distrik Kodaira.

Ajinomoto Stadium, yang menjadi kandang mereka sejak tahun 2001, juga tergolong megah dan sanggup menampung hingga 49.000 penonton. Pada saat hari pertandingan akhir pekan, area luar Ajinomoto Stadium rutin digunakan klub sebagai arena menggelar berbagai acara hiburan bagi pendukung yang kerap hadir bersama keluarga mereka.

Peluang musim 2016

Empat pertandingan awal kompetitif FC Tokyo musim ini berujung dengan hasil yang tidak terlalu menggembirakan. Dua kemenangan diraih FC Tokyo di ajang kompetisi antarklub asia, sementara sisanya berujung dengan kekalahan.

Salah satunya saat bermain di kandang melawan Omiya Ardija di pekan pembuka J.Leeague division 1 musim ini.

Perbedaan komposisi pemain di tiap pertandingan tersebut, kecuali di lini belakang dan penjaga gawang, menunjukkan bagaimana Hiroshi Jofuku masih mencoba menyusun kekuatan terbaik.

Pun dengan catatan ia harus menghadapi kesulitan dengan cederanya dua pilar baru Ha Dae-sung dan Yuichi Komano. Keduanya dipastikan akan menepi setidaknya dalam tiga pekan awal kompetisi liga.

Dua nama diatas termasuk dalam rombongan pemain baru yang disuntikkan ke dalam skuad. Pada posisi penjaga gawang, Yota Akimoto nampak menjadi pilihan utama, hal ini menutupi hengkangnya Vlada Avramov maupun Shuichi Gonda.

Peran pelapis diserahkan kepada Kentaro Kakoi, yang menyisihkan penjaga gawang gaek Tatsuya Enomoto.

Kinerja Nathan Burns dan Fancisco Sandaza dinilai masih belum memuaskan
Kinerja Nathan Burns dan Fancisco Sandaza dinilai masih belum memuaskan

Persoalan pertahanan nampak masih akan menjadi kelemahan FC Tokyo musim ini. Selain ditinggal Komano,jumlah pemain belakang Tokyo juga harus berkurangs etelah  pemain rookie Sei Muroya dipaksa absen selama beberapa bulan kedepan akibat patah metatarsal.

Duet bek sentral Masato Morishige dan Yuichi Maruyama masih menjadi andalan. Mereka akan diapit dua bek sayap, Yuhei Tokunaga dan pemain jebolan akademi Ryoya Ogawa.

Sebaliknya, pilihan pemain di lini tengah nampak melimpah setidaknya cukup untuk menjadi bekal tim mengarungi jadwal kompetisi padat musim ini. Kedatangan sejumlah pemain baru memberikan banyak pilihan dalam skema empat pemain tengah idaman sang pelatih.

Dua pemain anyar, Kota Mizuuma dan Ha Daesung, diharapkan mendukung kinerja andalan musim lalu seperti  Takuji Yonemoto dan Keigo Higashi. Pemain asing asal Australia, Nathan Burns juga masih bertahan setidaknya hingga pertengahan musim.

Pemain asing lain, Fransisco Sandaza, mungkin masih akan berjuang meraih satu tempat dalam starting lineup.

Selain belum menunjukkan performa menggigit di lini depan selama berkostum biru-merah, ia masih harus bersaing dengan Takuma Abe, Ryoichi Maeda, dan Yohei Hayashi. Dua nama pertama nampak menjadi favorit untuk menjadi duet penggedor pertahanan lawan.

Kiprah kompetisi FC Tokyo musim ini kurang lebih akan banyak dibayangi oleh pencapaian mereka di musim lalu. Ditambah dengan jadwal kompetisi yang padat, ekspektasi para pendukung menuntut prestasi di musim ini semakin bertambah.

Gagal meraih poin di pekan perdana setidaknya wajib menjadi pelajaran bahwa kompetisi sesungguhnya telah dimulai. Hiroshi Jofuku harus mempertaruhkan segalanya demi membawa kesuksesan di periode kedua.

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment




About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.