Apa Yang Dialami Becky Adalah Bukti Diskriminasi Perempuan di Jepang




Karir Becky di dunia hiburan teracam berakhir karena skandal yang dihembuskan media Jepang

Kontroversi Rebecca Ery Ray Vaughan atau yang kerap disapa Becky ternyata menjadi sorotan dunia.

Dalam salah satu artikel The Guardian, Justin McCurry mengungkapkan kritiknya terhadap perilaku masyarakat Jepang terhadap Becky yang memperlihatkan diskriminasi terhadap entertainer perempuan.

Beberapa minggu lalu mungkin anda dapat melihat wajah Becky di layar televisi Jepang setiap malam, namun hanya dalam hitungan minggu keberadaannya seperti ditelan bumi.

Kisah hubungan antara gadis keturunan Jepang-Inggris tersebut dengan seorang lelaki yang telah menikah membuatnya menghadapi krisis dalam karirnya.

Hanya dengan sebuah bocoran pesan singkat yang diterbitkan sebuah tabloid membuat Becky menjumpai kehancuran karir yang telah ia bangun selama 15 tahun lamanya.

Kesulitan yang dialami Becky turut menyulut debat tentang perlakukan yang diberikan oleh agensi bakat terhadap penyanyi, aktris, dan selebriti perempuan.

Ketika Becky mempertimbangkan untuk menarik diri dari berbagai penampilan televisi, iklan, dan program radio, ia mungkin juga bertanya-tanya mengapa hanya dirinya yang disudutkan pernyataan pedas media. Di sisi lain, lelaki yang dikabarkan sebagai kekasihnya yang merupakan seorang penyanyi pop, tidak tersentuh karirnya.

Bagi publik, Becky telah melakukan kesalahan karena telah melanggar sebuah peraturan tak tertutlis bagi seorang selebriti perempuan di Jepang, yakni tugas mereka tak hanya sekadar menghibur melainkan juga untuk tetap menjaga nilai moral.

Selama berminggu-minggu, sejumlah majalah memuat kisah hubungan terlarang antara Becky dengan Kawatani Enon (27), penyanyi band Gesu no Kiwani Otome.

Dalam sekejap, pihak yang mempekerjakan Becky merobek kontraknya, setelah diusut hal tersebut merupakan instruksi dari manajemen agensinya sendiri, Sun Music.

Tidak lama berselang, wajah Becky pun telah hilang dari layar kaca televisi, kehilangan kontrak iklan, dan juga program radionya.

Sun Music mengklaim bahwa saat ini Becky tengah sakit dan depresi. Namun sekalipun Becky telah sembuh, belum tentu ia dapat kembali ke dunia hiburan.

Philip Brasor, seorang komentator media dan budaya Jepang, mengungkapkan Becky sama saja seperti selebriti umumnya yang mendominasi dunia hiburan Jepang.

“Alasan utama dia menjadi seorang selebriti televisi adalah citranya yang ceria, dapat diterima, perempuan muda baik, dan ketika citra tersebut rusak maka ia tak meninggalkan nilai apapun dimata para penonton yang biasa melihatnya di layar kaca.”

Ketika manajemen agensi menghabiskan waktu dan uangnya untuk mengorbitkan seorang selebriti, mereka juga menciptakan citra baru yang tidak memberikan ruang bagi ketidakpatutan.

“Kebanyakan orang tidak memiliki kemampuan entertainment konvensional. Nilai mereka bagi agensi semua bergantung dengan seberapa suka publik terhadap mereka yang berarti kehidupan pribadi mereka pun merupakan milik agensi juga,” ungkap Brasor.

Menurut Brasor, Becky telah dituduh atas tindakan perselingkuhan, membuat ia sulit mendapatkan simpati publik.

Ketika sebuah jaringan televisi menggunakan siaran lama dari selebriti yang tengah terkena skandal walaupun rekamannya dilakukan sebelum mencuatnya skandal, televisi tersebut akan menerima lebih dari 1.000 komplain hanya dalam hitungan 10 menit.

Sementara itu masih banyak pula entertainer perempuan lainnya yang karirnya hancur walaupun hubungannya bukanlah perselingkuhan.

Pada September tahun lalu, seorang anggota dari idol group yang berumur 17 tahun diminta untuk membayar 650.000 Yen atau 77 juta rupiah kepada agensinya setelah terungkap bahwa ia memiliki kekasih.

Hal tersebut dianggap sebagai pelanggaran terhadap kontrak dengan klausa yang melarang ia berpacaran. Lebih dari itu, hubungannya juga membuat grup beranggotakan 6 orang tersebut terpaksa dibubarkan.

Kasus tersebut mengungkapkan bagaimana agensi di Jepang akan terus memuaskan fantasi dan mengamankan loyalitas komersil dari basis fans yang didominasi oleh pria.

“Selama ia seorang idola perempuan, maka larangan berpacaran penting untuk mendapatkan dukungan dari fans,” ungkap hakim Akimoto Kojima.

Bertolak belakang dengan pendapat Akimoto Kojima, seorang Hakim Pengadilan Tokyo, Katsuya Hara, menganggap bahwa larangan tersebut berlebihan.

Pendapatnya diutarakan terkait kasus tuntutan sebuah agensi terhadap seorang idola perempuan yang melanggar kontrak karena berpacaran.

Menurut Hara, idola perempuan berumur 23 tahun tersebut, memiliki hak konstitusional untuk mengejar kebahagiaan, termasuk memiliki kekasih.

Menurut Mark Schreiber, seorang penulis tentang industri entertainment Jepang, nilai seorang perempuan sebagai komoditas dianggap berisiko menguap ketika ia mulai tak bisa “digapai” oleh para fans laki-laki.

“Agensi mendapatkan bibit baru ketika mereka relatif masih sangat muda sehingga agensi pun tak ingin mereka tertangkap basah dalam sebuah kontroversi.

Namun klausa larangan berpacaran seharusnya sudah habis masa waktunya ketika mereka telah menginjak umur 20 tahun (Usia legal dan dianggap telah dewasa),” ungkap Schreiber.

Minegishi Minami, anggota AKB48, berada pada usia tersebut ketika sebuah majalah mempublikasikan fotonya meninggalkan rumah kekasihnya pada tahun 2013.

Beberapa jam setelah majalah tersebut dipublikasikan, Minegishi, mempublikasikan video permintaan maafnya melalui Youtube dengan kondisi kepala yang telah terpelontos habis. Sebuah bentuk tradisional atas penyesalan di Jepang.

“Sebagai seorang anggota senior di AKB48, saya berkewajiban untuk menjadi contoh bagi anggota yang lebih muda. Semua yang saya lakukan adalah kesalahan saya sepenuhnya. Saya meminta maaf,” ungkap Minegishi dalam video berdurasi 4 menit tersebut.

Namun Schreiber ragu bahwa keputusan terbaru di pengadilan yang membela hak dari idola perempuan tersebut akan melemahkan determinasi dari agensi untuk membelenggu idola perempuan secara moral.

“Para entertainer perempuan adalah produk yang dimiliki kartel entertainment dan pastinya mereka tidak ingin apapun mengancam produk mereka,” ungkap Schreiber.

Sumber dan Foto: The Guardian

BE THE FIRST TO COMMENT

Leave a Comment




About thedailyjapan 1817 Articles
Portal Informasi terlengkap dan tips wisata ke Jepang. Kuliner, Budaya, Musik, Film, Hiburan, Olah-Raga, Event dan kota-kota terbaik di Jepang.